Dolar Sentuh Rp 18.000, Para Perusahaan Ini Pusing Impor Bahan Baku
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah yang resmi menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan industri olahan susu nasional. Pelemahan mata uang Garuda dinilai membuat biaya produksi melonjak karena sebagian besar bahan baku susu masih bergantung pada impor hingga 75%-80% dari kebutuhan domestik.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Susu (AIPS) Sonny Effendhi mengatakan, tekanan kurs langsung berdampak pada kenaikan harga bahan baku yang digunakan industri susu.
"Pelemahan rupiah menyebabkan harga bahan baku impor akan semakin mahal, yang tentunya akan menyebabkan kenaikan biaya produksi. Bahan baku impor yang makin mahal atau mengalami kenaikan itu (di antaranya) susu bubuk dan vitamin mineral. Kenaikan harga dampak dari kurs 17% sampai dengan 35%," kata Sonny kepada CNBC Indonesia.
Meski biaya produksi meningkat, menurut Sonny, pelaku industri belum berani membebankan kenaikan harga kepada konsumen karena daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih.
"Langkah upaya yang dilakukan industri susu saat ini adalah dengan cara mengefisiensikan biaya untuk bertahan hidup. Saat ini industri (baru) melakukan efisiensi di masing-masing internal perusahaan. Karena untuk menaikkan harga ke konsumen rasanya belum tepat waktunya, karena situasi daya beli masyarakat masih belum pulih," ujarnya.
Di lain sisi, ia juga mengingatkan kurs yang tinggi dapat menekan ekspansi usaha. Kenaikan harga berbagai kebutuhan produksi berpotensi mengurangi permintaan pasar.
"Kurs tinggi tentunya akan menekan ekspansi, karena harga barang-barang yang naik akan menurunkan permintaan. Kenyataan yang sedang terjadi," tutur Sonny.
Senada dengan pelaku industri, Ketua Umum Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) Agus Warsito mengatakan, dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada karakter usaha, apakah berbasis impor atau ekspor. Namun bagi industri susu, kondisi saat ini jelas menjadi tantangan besar karena ketergantungan terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi.
"Ada plus minusnya, tergantung pada basis kegiatan usaha-nya.. berbasis impor atau ekspor. Tapi kalau bagi pabrikan susu, tentu jadi tekanan tersendiri, mengingat 80% bahan baku yg dibutuhkan, masih impor," kata Agus, dihubungi terpisah.
Untuk meredam dampak kenaikan biaya, pelaku usaha disebut melakukan efisiensi di berbagai lini sekaligus mencari terobosan baru untuk memperluas pasar.
"Melakukan efisiensi semaksimal mungkin di semua lini, dan melakukan inovasi-inovasi baru untuk memperluas pasar atau pemasaran. Inovasinya berupa memaksimalkan penggunaan bahan pakan berbasis limbah pertanian lokal," ujarnya.
Agus menambahkan, pelemahan rupiah juga mengganggu rencana investasi yang berkaitan dengan impor, termasuk pengadaan indukan sapi perah dari luar negeri.
"Kondisi saat ini, sangat mengganggu semua kegiatan usaha yang berbasis impor, termasuk didalamnya keinginan impor indukan sapi perah bunting, harganya jadi semakin tidak realistis," sebut Agus.
Ia menyebut harga sapi perah bunting impor, hingga sampai ke tangan peternak rakyat kini semakin mahal. "Estimasi harga sapi perah impor (bunting), sampai di peternak rakyat jadi mendekati Rp60 juta per ekor," katanya.
Rupiah masih bergerak di bawah tekanan sepanjang pekan ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah ditutup menguat tipis 0,06% ke level Rp18.010 per dolar AS setelah sempat bergerak volatil di kisaran Rp18.000-Rp18.050 per dolar AS.
Penguatan tersebut menjadi sedikit kabar baik setelah sehari sebelumnya, Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
(hoi/hoi) Add
source on Google