MARKET DATA
Internasional

Geger 3 Juta Penduduk Jepang Menghilang, Apa yang Terjadi?

tps,  CNBC Indonesia
05 June 2026 16:50
Orang-orang berjalan melintasi penyeberangan pejalan kaki di distrik Shibuya dalam cuaca panas dan lembab Kamis, 13 Juli 2023, di Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Foto: Warga Jepang (AP/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah populasi penduduk Jepang dilaporkan telah merosot tajam hingga lebih dari 3 juta jiwa selama kurun waktu lima tahun terakhir, Jumat (29/5/2026). Penurunan drastis berdasarkan statistik resmi pemerintah ini semakin menegaskan betapa dalamnya krisis demografi yang kini tengah mempercepat penyusutan negara tersebut.

Mengutip CNBC International, hasil awal sensus menunjukkan bahwa total populasi Jepang berada di angka 123 juta jiwa pada tahun lalu, turun signifikan dari angka 126,1 million jiwa pada tahun 2020. Penurunan ini tercatat sebagai kemerosotan terbesar sepanjang sejarah sejak pemerintah Jepang pertama kali mengumpulkan data sensus pada tahun 1920 silam.

Populasi Negeri Sakura sendiri sebenarnya sempat mencapai puncaknya pada tahun 2008 dengan jumlah 128 juta jiwa, namun kini diproyeksikan akan terus anjlok hingga menyisakan 87 juta jiwa saja pada tahun 2070. Kondisi saat ini membuat ukuran jumlah penduduk negara tersebut menyusut kembali ke skala yang sama seperti pada tahun 1989.

Selama beberapa dekade, otoritas Jepang telah mencoba mengimbangi populasi yang menua dengan cepat melalui berbagai program yang mendorong kaum muda untuk memiliki lebih banyak anak. Namun, upaya tersebut dinilai gagal total dan meninggalkan negara itu dengan salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia, di mana untuk setiap satu kelahiran baru, terdapat dua kematian yang terjadi.

Jepang kini menjadi peringatan awal bagi tantangan demografi yang akan segera melanda negara-negara maju lainnya. Penyusutan populasi ini terpantau sudah mulai menghambat pertumbuhan ekonomi Jepang, memberikan tekanan berat pada sistem layanan kesehatan, hingga menyebabkan kelangkaan tenaga kerja yang akut.

Data sensus menunjukkan bahwa krisis demografi ini telah menjangkau hampir seluruh wilayah Jepang, di mana 45 dari 47 prefektur melaporkan penurunan populasi tahun lalu dengan tingkat penurunan yang kian terakselerasi. Wilayah utara seperti Prefektur Akita dan Aomori menjadi area yang paling terpukul dengan penyusutan penduduk mencapai 8% dari tahun 2020 hingga 2025 akibat upah yang stagnan, musim dingin yang keras, serta eksodus kaum muda ke kota besar.

Pedesaan Jepang kini semakin kosong karena penduduknya menua dan kaum muda pergi mencari pekerjaan di Tokyo, Osaka, maupun Nagoya. Di beberapa daerah pedesaan, bangunan sekolah dialihfungsikan menjadi panti jompo dan pusat komunitas, jutaan rumah terbengkalai kosong, kantor pemerintah serta rumah sakit memperkecil skala operasional, hingga jalur kereta api yang terpaksa ditutup.

Membuka pintu Jepang lebih lebar bagi warga asing dinilai bisa membantu mengimbangi penurunan ini, namun pemerintah setempat telah lama mengambil pendekatan yang sangat hati-hati terhadap imigrasi. Ditambah lagi, politisi dan komentator nasionalis baru-baru ini semakin mendapatkan pengaruh luas dengan agenda "Jepang Pertama".

Terkait fenomena tersebut, James Raymo yang merupakan seorang profesor sosiologi di Princeton University yang mempelajari negara Jepang memberikan pandangannya.

"Jepang sekarang telah mencapai tingkat di mana penurunan semacam ini tidak dapat dipulihkan dalam jangka pendek atau menengah. Hal itu tidak akan terjadi tanpa adanya imigrasi massal," kata Raymo.

Meski demikian, terdapat sedikit titik terang dalam sensus tersebut, termasuk di Okinawa, sebuah rantai pulau subtropis di selatan di mana populasinya tumbuh sedikit. Okinawa tercatat memiliki tingkat kesuburan tertinggi di Jepang dengan rata-rata wanita melahirkan 1,5 anak seumur hidup mereka, dibandingkan dengan rata-rata nasional yang hanya 1,1 anak.

Kota-kota terbesar di Jepang juga masih berhasil menahan penurunan demografi untuk saat ini, di mana populasi wilayah metropolitan Tokyo tumbuh tipis menjadi 37 juta jiwa pada tahun 2025 dan menyumbang sekitar 30% dari total populasi Jepang. Pertumbuhan Tokyo yang kini 20 kali lebih padat dari wilayah Jepang lainnya ini didorong oleh membanjirnya mahasiswa dan pekerja muda yang mencari peluang kerja serta pendidikan.

Penderitaan Jepang diprediksi akan semakin memburuk dalam beberapa dekade mendatang karena akan semakin sulit menemukan pekerja untuk staf sekolah, rumah sakit, departemen kepolisian, hingga stasiun kereta. Negara ini juga terancam kekurangan generasi muda yang produktif untuk membayar pajak yang diperlukan guna menopang para pensiunan.

Lebih lanjut, Raymo menilai bahwa upaya pemerintah Jepang selama ini untuk meningkatkan kesuburan atau angka kelahiran sama sekali belum membuahkan hasil yang berarti. Namun di sisi lain, ia juga menyampaikan bahwa situasi sulit yang dihadapi Jepang saat ini pada akhirnya dapat memberikan pelajaran berharga bagi pemerintah negara-negara lain di dunia.

"Semakin banyak negara di Asia dan tempat lain yang akan mengalami tingkat penurunan demografi yang serupa. Jepang hanya berada di garis depan dan telah menghadapinya jauh lebih lama," pungkas Raymo.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article "Putus Asa" Dongkrak Angka Kelahiran, China Gelontorkan Rp290 Triliun


Most Popular
Features