Internasional

Puluhan Kapal Diam-Diam Berhasil Tembus Hormuz, Dibantu Militer AS

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 05/06/2026 09:25 WIB
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir 40 kapal yang sebelumnya tertahan di Teluk Persia berhasil keluar melalui Selat Hormuz dalam tiga pekan terakhir. Keberhasilan tersebut terjadi setelah operator kapal melakukan koordinasi secara diam-diam dengan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), menurut data Lloyd's List Intelligence.

Pemimpin Redaksi Lloyd's List, Richard Meade, mengatakan sejumlah pemilik kapal menyerahkan rencana pelayaran mereka kepada kelompok Naval Cooperation and Guidance for Shipping (NCAGS) yang berbasis di Bahrain. Menurutnya, koordinasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan keamanan kapal saat melintasi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

"Keputusan transit tetap sepenuhnya berada di tangan operator kapal. Operator industri memberi tahu kami bahwa mereka tidak dikoordinasikan secara terpusat," ujar Meade dalam sebuah pengarahan pada Kamis (4/6/2026).


Meade menjelaskan, terdapat asumsi di kalangan pelaku industri bahwa Angkatan Laut AS memberikan jaminan terbatas untuk membantu menghadapi potensi ancaman terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Namun, seorang pejabat pertahanan AS menegaskan kepada CNBC International bahwa militer AS tidak melakukan pengawalan langsung terhadap kapal dagang.

Menurut pejabat tersebut, pasukan AS hanya berkomunikasi dan berkoordinasi dengan kapal-kapal yang ingin melintasi Hormuz secara aman dan bebas. Meski demikian, lalu lintas kapal di jalur tersebut masih jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik pecah.

Data Lloyd's List menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz sempat anjlok ke titik terendah selama konflik Iran yang berlangsung pada Mei lalu. Situasi itu mendorong pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan misi singkat Angkatan Laut AS bernama Project Freedom untuk membantu memperlancar arus kapal yang terjebak di Teluk Persia.

Namun, pada awal Mei, Trump secara mendadak menghentikan program tersebut. Akibatnya, kapal-kapal yang masih berada di kawasan Teluk menghadapi risiko tinggi, baik berupa serangan dari pasukan Iran maupun potensi sanksi AS apabila mereka bekerja sama dengan Teheran untuk mendapatkan izin melintas.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat pekan ini setelah terjadi bentrokan antara pasukan AS dan Iran. Insiden tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dunia karena investor khawatir gencatan senjata akan runtuh dan memicu perang yang lebih luas.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini berpotensi memengaruhi pasokan minyak dunia dan mendorong volatilitas harga energi di pasar internasional.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Acuhkan Ancaman Iran, Negosiasi Damai di Ujung Tanduk