Rasio Elektrifikasi RI Meningkat, Capai 99,38% di Kuartal I-2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rasio elektrifikasi nasional telah mencapai 99,83% hingga kuartal I-2026. Hal itu menunjukkan pemerataan akses listrik masyarakat jika dibandingkan dengan realisasi 10 tahun terakhir yakni pada tahun 2016 yang hanya berada di level 91,16%.
Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya mencapai target elektrifikasi penuh di seluruh wilayah Indonesia. Tri menyampaikan bahwa mayoritas provinsi di Indonesia saat ini telah memiliki akses listrik di atas 95%, bahkan wilayah DKI Jakarta dan Bali sudah menyentuh angka 100%.
"Berdasarkan data pada triwulan 1 tahun 2026 rasio elektrifikasi di Indonesia mencapai 99,83% meningkat signifikan dibanding 91,16% pada tahun 2016. Capaian ini menunjukkan bahwa akses listrik kepada masyarakat Indonesia semakin nyata dan mendekati elektrifikasi penuh," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (8/6/2026).
Pemerintah saat ini juga tengah menggencarkan Program Listrik Desa (Lisdes) untuk mencapai 10.685 lokasi yang saat ini belum teraliri listrik secara nasional. Sebagian besar wilayah yang belum tersentuh listrik tersebut terkonsentrasi di kawasan Indonesia Timur akibat tantangan geografis.
"Tahun 2025 ini terdapat 10.685 lokasi yang belum dilistriki di seluruh wilayah Indonesia di mana konsentrasi terbesar berada di wilayah Maluku Papua dan Nusa Tenggara mencapai 5.555 lokasi atau lebih dari 55% dari total yang kita rencanakan," kata Tri.
Hingga April 2026, total kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional tercatat mencapai 108 Giga Watt (GW). Dari kapasitas tersebut, porsi sebesar 73% atau sekitar 79,05 GW dikelola oleh PT PLN (Persero) beserta produsen listrik swasta (IPP) yang menjadi tulang punggung sistem ketenagalistrikan tanah air.
"Total kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional per April 2026 mencapai 108 GW, di mana dari jumlah tersebut 79,05 GW atau 73% ini berada dalam wilayah usaha PLN yang dikelola baik oleh PLN itu sendiri maupun IPP," paparnya.
Soal bauran energi, porsi energi baru terbarukan (EBT) menunjukkan kinerja positif dengan realisasi sebesar 17,89% hingga April 2026. Angka tersebut melampaui target awal yang ditetapkan sebesar 16,46%, meskipun operasional pembangkit secara nasional masih didominasi oleh energi fosil.
"EBT seperti yang tahun 2025 mengalami kenaikan melampaui target yaitu tren realisasi 17,89 di atas target 16,46. Porsi ini tentu cukup menggembirakan dan menunjukkan kinerja positif dari energi baru terbarukan," tandasnya.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]