Ini Pemicu Dolar AS Bisa Ngamuk & Tembus Rp18.000 Versi Bos Pengusaha
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno memberikan pandangan terkait penyebab pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Menurutnya pelemahan Rupiah yang terjadi disebabkan sentimen atau presepsi terhadap beberapa faktor. Seperti data impor Indonesia yang semakin membesar. Selain itu ada kekhawatiran terkait peningkatan suku bunga acuan.
Pasalnya tekanan terhadap inflasi AS yang bertahan tinggi di atas target 2%, sehingga diprediksi Bank Sentral AS akan menaikan kembali suku bunga acuan.
"Kurs rupiah terhadap US$ sudah masuk dalam persepsi walaupun indikasi data Ada yang mendukung, misal impor kıta semakin membesar menggunakan US$ karena inflasi di USA maka FED Akan kenaikan rate pinjaman sehingga USD Pulang kampung," kata Benny, melalui pesan singkat, Kamis (4/6/2026).
Menurut Benny dari kondisi ini akan menguntungkan pengusaha yang berorientasi ekspor dengan produksi yang berasal dari dalam negeri. Namun pengusaha saat ini juga sudah melakukan persiapan dengan menjaga ketat cashflow-nya.
"Masih menguntungkan untuk pengusaha yang orientasi nya Eksport dengan bahan Produksi dari dalam negeri . Persiapan pengusaha Kalau pelemahan rupiah Yaitu jaga ketat cash flow," kata Benny.
Terpisah, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani, menilai pelemahan nilai tukar rupiah sudah dirasakan hingga sektor riil.
Menurutnya, bagi dunia usaha, tantangan utamanya bukan hanya pada level nilai tukarnya, tetapi pada dampak yang ditimbulkan terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, dan kepastian berusaha. Terlebih 70% sektor industri yang bergantung pada impor bahan baku.
Artinya, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi.
Shinta menjabarkan bahwa tekanan besar diantaranya dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta berbagai sektor yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.
Lebih lanjut menurut Shinta, dunia usaha sudah melakukan berbagai langkah mitigasi atas dampak pelemahan nilai tukar ini.
"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar," katanya.
Menurutnya, saat ini pengusaha berfokus untuk menjaga business continuity sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya yang meningkat.
(emy/wur) Add
source on Google