Kondisi Lagi Berat-Rupiah Ambruk Tambah Masalah, Ini Cara RI Selamat

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Kamis, 04/06/2026 16:50 WIB
Foto: Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menilai dunia usaha akan semakin sulit karena pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Saat ini nilai tukar tembus ke level psikologi baru yakni Rp 18.000/US$.

Menurut Shinta, tekanan besar terjadi dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta berbagai sektor yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.

"Kondisi ini semakin berat karena dunia usaha juga masih menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. Dengan kata lain, saat ini pelaku usaha menghadapi tekanan berlapis atau externally driven cost pressure yang cukup signifikan," tuturnya, saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (4/6/2026).


Shinta juga melihat aktivitas usaha juga terlihat mengalami penurunan optimisme pelaku industri. Dari catatannya, PMI Manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi sejak Juli 2025, tren penurunan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga menunjukkan kan sektor riil sedang menghadapi fase yang lebih menantang.

"Apalagi pelemahan Rupiah ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini, ketika sebagian (10 subsektor) manufaktur tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, dan 4 subsektor manufaktur di antaranya alami kontraksi," kata Shinta.

Dia menjelaskan bagi dunia saat ini tantangannya berada pada dampak yang ditimbulkan seperti biaya produksi, pembiayaan, dan kepastian berusaha. Melihat ketergantungan bahan baku impor masih berada di kisaran 80%.

"Pelemahan Rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi," katanya.

Lebih lanjut menurut Shinta, dunia usaha sudah melakukan berbagai langkah mitigasi atas dampak pelemahan nilai tukar ini.

"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar," katanya.

Menurutnya, saat ini pengusaha berfokus untuk menjaga business continuity sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya yang meningkat.

Sebagai informasi, pelemahan rupiah masih terus berlanjut, hingga tembus level psikologis baru di Rp18.000 per dolar AS.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Demikian mengutip Refinitiv.

Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,11% di level Rp17.960/US$. Namun, hanya beberapa menit setelah pembukaan, mata uang Garuda langsung ambruk menembus Rp18.000/US$ dan bertahan di atas level tersebut hingga penutupan perdagangan.

Harapan Pengusaha

Untuk itu menurut Shinta, pengusaha berharap pemerintah untuk terus menjaga macroeconomic credibility dan market confidence Indonesia melalui koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor riil.

"Stabilitas nilai tukar menjadi sangat penting, namun pada saat yang sama perlu diimbangi dengan langkah-langkah konkret untuk menurunkan berbagai komponen high cost economy yang selama ini membebani dunia usaha, mulai dari biaya logistik, energi, perizinan, hingga cost of compliance yang masih relatif tinggi" tuturnya.

Di sisi lain, pengusaha mengaku memahami langkah yang sudah dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Seperti, keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dapat dipahami sebagai langkah pre-emptive stabilization policy untuk menjaga stabilitas rupiah. Serta mengendalikan risiko inflasi, serta mempertahankan market confidence di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global dan risiko geopolitik yang masih tinggi.

Menurut Shinta, pengusaha juga meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik.

Namun, imbuh dia, dalam situasi seperti sekarang, efektivitas kebijakan stabilisasi juga perlu diimbangi dengan langkah-langkah yang mampu menjaga daya tahan sektor riil.

"Stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan," cetusnya.

"Karena itu, selain menjaga stabilitas nilai tukar, diperlukan pula kebijakan yang dapat mengurangi tekanan biaya usaha, memperkuat iklim investasi, menjaga kelancaran arus perdagangan dan logistik, serta meningkatkan daya saing industri nasional agar proses stabilisasi ekonomi dapat berjalan tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja," kata Shinta.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pengusaha Minta Pemerintah Jamin Pasokan Gula & Garam Impor