Bos BI Ungkap Alasan Rupiah Melemah, Tetangga RI Nasibnya Juga Sama
Jakarta, CNBC Indonesia-Bank Indonesia (BI) menjelaskan kondisi nilai tukar rupiah yang melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga hari ini, Kamis (4/6/2026)
"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan tertulis.
"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN."
Situasi yang serupa juga dialami negara tetangga. Ringgit terkoreksi 0,55% ke posisi MYR 4,012/US$.
Selain rupiah dan ringgit, dong Vietnam melemah 0,17% ke posisi VND 26.335/US$, dolar Taiwan turun 0,14% ke posisi TWD 31,5/US$, dan yuan China terdepresiasi ke posisi CNY 6,775/US$ terkoreksi 0,09%
"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara year to date melemah -7,44%," ujarnya.
BI meningkatkan intervensi untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Di samping itu tetap memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.
Adapun intervensi dilakukan pada transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," jelasnya.
BI turut mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar US$ 22,7 miliar dibandingkan keseluruhan tahun 2025 yang sekitar US$ 25,7 miliar.
(mij/mij) Add
source on Google