Dolar Tembus Rp18.000, BI Genjot Intervensi & Dorong LCT

haa, CNBC Indonesia
Kamis, 04/06/2026 11:29 WIB
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) buka suara perihal pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh level Rp 18.000/US$ pada pagi ini, Kamis (4/6/2026). Data Refinitiv pada pukul 11.20 WIB menunjukkan rupiah masih melemah ke level Rp Rp18.040/US$. Ini adalah level terburuk rupiah sepanjang masa.

Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menuturkan pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara berkembang.


"Selain itu kebutuhan (dolar) domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," kata Destry, dalam pesan singkat kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/6/2026).

Dia pun menegaskan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Selain itu, BI terus memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

Destry menjelaskan intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," katanya.

Menurut Destry, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan pada April mencapai sekitar US$ 22,7 miliar, dibandingkan tahun lalu yang sekitar US$ 25,7 miliar.

Destry pun menyampaikan secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara tahun kalender rupiah melemah -7,44%. Di tengah pelemahan ini, BI mencatat cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: DPR Panggil Bos Bank Indonesia Bahas Sebab Anjloknya Rupiah