Ribuan pekerja menggelar aksi protes di ibu kota Portugal, Lisbon, pada Rabu (3/6/2026), sebagai bagian dari pemogokan umum yang menentang rencana reformasi ketenagakerjaan yang diusulkan pemerintah. (REUTERS/Pedro Nunes)
Aksi tersebut menjadi pemogokan umum kedua dalam enam bulan terakhir yang mengganggu berbagai layanan publik di Portugal. Pemogokan menyebabkan layanan kereta api terhenti, ratusan penerbangan dibatalkan, serta sejumlah sekolah ditutup. (REUTERS/Pedro Nunes)
Pemerintah minoritas berhaluan kanan-tengah diperkirakan akan meloloskan rancangan undang-undang tersebut dengan dukungan partai sayap kanan Chega. Reformasi itu mencakup perubahan pada lebih dari 100 pasal dalam kode ketenagakerjaan dan disebut bertujuan meningkatkan produktivitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi setelah perundingan dengan serikat pekerja tidak mencapai kesepakatan. (REUTERS/Pedro Nunes)
Sejumlah pekerja menilai reformasi tersebut akan merugikan buruh. "Ini adalah serangan brutal terhadap hak-hak kami. Mereka ingin mengutuk kami pada ketidakstabilan di tempat kerja dan dalam kehidupan," kata pekerja ritel, Filipa Costa. (REUTERS/Pedro Nunes)
Konfederasi serikat pekerja terbesar Portugal, CGTP, menyatakan reformasi itu berpotensi memperburuk kondisi pekerja dengan memperluas pekerjaan tidak tetap, melonggarkan aturan jam kerja, mempermudah pemecatan, serta membatasi hak mogok dan perlindungan bagi orang tua. (REUTERS/Pedro Nunes)
Sementara itu, pemerintah berpendapat aturan baru diperlukan untuk mempermudah pemutusan hubungan kerja yang dianggap sah, memberi fleksibilitas lebih besar kepada perusahaan dalam kasus pemecatan ilegal dengan mekanisme kompensasi, serta menghapus sejumlah pembatasan terhadap praktik alih daya (outsourcing). (REUTERS/Pedro Nunes)