Era KRL Eks Jepang di RI Akan Segera Berakhir, Gantinya Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkapkan, era Kereta Rel Listrik (KRL) bekas Jepang seperti Tokyo Metro 6000 hingga Japan Railways (JR) 205 yang selama ini melayani masyarakat Jabodetabek perlahan akan berakhir. KAI berencana mengganti puluhan rangkaian KRL berusia puluhan tahun tersebut dengan armada baru yang diproduksi di dalam negeri oleh PT Industri Kereta Api (INKA).
Direktur Utama PT KAI (Persero), Bobby Rasyidin mengatakan, modernisasi armada menjadi salah satu agenda penting perusahaan untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi perkotaan sekaligus memperkuat industri perkeretaapian nasional.
"Kalau bicara modernisasi KRL. KRL kami ini ada 104 train set, di mana 84-nya itu belum ada rencana untuk kita ganti. Maka 84 yang eks-Jepang itu rata-rata umurnya sudah 40 tahun, jadi yang paling tua itu juga ada yang 55 tahun umur dari KRL kita ini," kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Ia menuturkan, dari total 104 rangkaian KRL yang beroperasi saat ini, sebanyak 84 rangkaian merupakan armada eks Jepang yang rata-rata telah berusia 40 tahun. Bahkan, sebagian di antaranya sudah beroperasi selama lebih dari setengah abad.
Karena itu, KAI menyiapkan program penggantian armada secara bertahap dengan kereta baru produksi dalam negeri.
"Jadi yang 84 ini gradually kita akan replace ya, nanti diproduksinya di INKA, ada 84 train set, kalau dikali 12 itu hampir 1.000 kereta. Jadi sekaligus kita bangun lagi industri perkeretaapian kita ini dengan 84 yang ini," ujarnya.
Commuter Line melintas di Kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Iindonesia/Muhammad Sabki) Foto: Commuter Line melintas di Kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Iindonesia/Muhammad Sabki) |
Tak hanya KRL, KAI juga menyiapkan regenerasi besar-besaran untuk armada lokomotif yang selama ini menjadi tulang punggung operasional kereta api jarak jauh dan angkutan barang.
Bobby mengungkapkan, saat ini masih terdapat 151 lokomotif seri CC201 yang rata-rata diproduksi pada 1977, dan mulai menghadapi berbagai tantangan operasional.
"Di sisi lain, kita itu ada 151 lokomotif itu seri CC201 itu rata-rata tahun 1977. Di mana, satu, kalau dikasih B50 (biodiesel 50) dia sudah kurang menerima, karena teknologi biodiesel pada tahun 1977 itu belum ada," jelas dia.
"Kemudian yang kedua, gangguan juga sudah sering, sehingga kami merencanakan melakukan replacement dari 151 unit lokomotif ini. Nanti produksinya juga kita harapkan di INKA juga gitu," lanjutnya.
Lokomotif generasi baru yang disiapkan KAI nantinya akan memiliki kemampuan angkut yang lebih besar dibanding armada saat ini. Peningkatan tersebut dilakukan melalui kenaikan beban gandar (axle load) dari 15 ton menjadi 18 ton.
"Lokomotif baru ini kita tingkatkan juga kapasitasnya. Kalau kita lihat lokomotif sekarang itu dia axle load atau beban gandarnya 15 ton. Kalau 15 ton dikali 4, itu 60 ton, dia hanya bisa bawa beban itu hanya 50 ton gitu ya. Nah ini kita tingkatkan dia menjadi next generation-nya dia menjadi 18 ton. 18 ton ini punya kelebihan sekitar 15 ton lah," terang Bobby.
Dengan peningkatan spesifikasi tersebut, kapasitas angkut lokomotif diperkirakan naik sekitar 30%.
"Jadi kalau yang tadinya bisa bawa hanya 50 ton sekarang bisa bawa 65 ton," tuturnya.
Agar lokomotif generasi baru itu dapat beroperasi optimal, KAI juga harus melakukan peningkatan infrastruktur jalur kereta api di Pulau Jawa. Perusahaan telah menyiapkan perbaikan terhadap ratusan bangunan dan struktur pendukung jalur rel.
"Tentunya konsekuensinya kita melakukan upgrade terhadap jaringan kereta atau rel keretanya juga itu di 275 bangunan hikmat, estimasi biayanya sekitar Rp200 miliar yang memang kita kerjakan dari 2026 ini sampai dengan 2027, sehingga kita harapkan nanti di 2027 itu lokomotif baru yang axle load-nya 18 ton itu sudah bisa beroperasi di Jawa," pungkas dia.
(wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
