Internasional

Pabrik Alutsista Meledak, 5 Orang Tewas

tfa, CNBC Indonesia
Selasa, 02/06/2026 16:20 WIB
Foto: Seorang petugas polisi berdiri di depan jalur produksi propelan roket pabrik Hanwha Aerospace yang rusak parah setelah ledakan, di Daejeon, Korea Selatan, 1 Juni 2026. (Yonhap via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak lima orang tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka setelah ledakan disertai kebakaran terjadi di fasilitas produksi Hanwha Aerospace di Daejeon, Korea Selatan pada Senin (1/6/2026).

Ledakan dilaporkan terjadi sekitar pukul 10.59 waktu setempat di sebuah ruang pencucian kosong. Saat kejadian, para pekerja sedang melakukan proses pembersihan peralatan yang berkaitan dengan bahan peledak.

"Kebakaran diduga terjadi saat para pekerja sedang memindahkan bahan peledak dari peralatan dan mencuci alat-alat yang digunakan dalam pembuatan sistem propulsi," ujar CEO Hanwha Aerospace Son Jae-il dalam pengarahan terkait kecelakaan tersebut, seperti dikutip Korea Herald, Selasa (2/6/2026).


Petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api sepenuhnya sekitar pukul 13.07 waktu setempat, lebih dari dua jam setelah laporan pertama diterima. Operasi pencarian juga telah diselesaikan, sementara pihak berwenang mulai melakukan evaluasi lanjutan terkait kondisi lokasi kejadian.

Fasilitas Hanwha Aerospace di Daejeon merupakan salah satu pusat produksi utama industri pertahanan Korea Selatan. Pabrik ini memproduksi berbagai sistem persenjataan strategis, termasuk rudal permukaan-ke-udara jarak jauh, sistem roket peluncur ganda, serta teknologi propulsi roket dan rudal udara-ke-darat.

Seluruh korban tewas ditemukan di dalam fasilitas yang terdampak ledakan. Sementara itu, dua pekerja berhasil menyelamatkan diri, meski salah satunya dilaporkan berada dalam kondisi kritis. Otoritas menerima sekitar 30 laporan dari warga yang mendengar suara ledakan keras dan melihat kepulan asap dari area pabrik.

Sebanyak 25 unit peralatan dan 85 personel pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi. Status tanggap darurat Level 1 juga diberlakukan untuk mempercepat koordinasi lintas lembaga dalam proses penyelamatan dan penanganan insiden.

"Fasilitas tersebut hampir hancur total akibat kebakaran. Karena kekhawatiran terhadap keselamatan struktur bangunan, kami masih melakukan penilaian sebelum proses pembersihan puing dapat dilanjutkan," kata seorang pejabat pemadam kebakaran.

Ia menambahkan kondisi jenazah korban mengalami kerusakan berat sehingga proses identifikasi memerlukan bantuan Layanan Forensik Nasional.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang telah menerima laporan terkait insiden itu langsung memerintahkan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab kecelakaan serta mencegah kejadian serupa terulang. Ia juga meminta seluruh sumber daya pemerintah dimobilisasi guna mendukung operasi penyelamatan dan penanganan korban.

Kementerian Ketenagakerjaan dan Perburuhan Korea Selatan juga menyatakan akan melakukan investigasi cepat terhadap akar penyebab kecelakaan.

"Kami akan melakukan segala upaya untuk memastikan penanganan kecelakaan yang cepat dan akurat serta mencegah insiden lanjutan," ujar Menteri Ketenagakerjaan Kim Young-hoon.

Di sisi lain, Hanwha Group menyampaikan permintaan maaf resmi atas tragedi tersebut. Son Jae-il menegaskan perusahaan akan memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban dan para pekerja yang terluka.

"Kami akan memberikan semua dukungan yang diperlukan kepada keluarga yang berduka dan bertanggung jawab penuh atas perawatan serta pemulihan korban luka," katanya.

Insiden ini menambah daftar kecelakaan fatal di fasilitas Hanwha Daejeon. Sebelumnya, ledakan pada Mei 2018 menewaskan lima pekerja, sementara kecelakaan serupa pada Februari 2019 merenggut tiga nyawa. Manajemen perusahaan mengaku terkejut karena insiden terbaru terjadi setelah berbagai investasi keselamatan dan otomatisasi diterapkan pasca-kecelakaan sebelumnya.

Tragedi tersebut juga berdampak pada dinamika politik nasional. Menjelang pemilihan lokal yang akan digelar Rabu, partai-partai besar menghentikan sementara aktivitas kampanye yang bersifat meriah. Sejumlah kandidat dan pimpinan partai membatalkan agenda kampanye mereka serta menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Eks Presiden Korsel Divonis 7 Tahun, Hukuman Diperberat