MARKET DATA
Internasional

Iran Mengancam, Trump Angkat Tangan: Saya Tak Peduli Lagi

luc,  CNBC Indonesia
02 June 2026 05:36
Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Nathan Howard)
Foto: REUTERS/Nathan Howard
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan sikap yang makin tidak sabar terhadap proses negosiasi dengan Iran. Di tengah ketidakpastian nasib perundingan damai dan ancaman Teheran untuk menutup total Selat Hormuz, Trump bahkan secara terbuka menyatakan dirinya tidak peduli jika pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.

Pernyataan itu muncul saat ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat akibat operasi militer Israel di Lebanon terhadap Hizbullah, kelompok yang didukung Iran. Situasi tersebut memicu laporan bahwa Iran mempertimbangkan menghentikan dialog dengan Washington sekaligus memperketat blokade di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Dalam wawancara melalui telepon dengan CNBC pada Senin (1/6/2026) waktu setempat, Trump meremehkan kemungkinan runtuhnya proses diplomasi yang selama beberapa pekan terakhir menjadi fokus upaya penghentian perang.

"Saya tidak peduli jika pembicaraan itu berakhir, sejujurnya," kata Trump.

Presiden AS itu bahkan menegaskan kembali sikapnya dengan kalimat yang lebih keras. "Saya benar-benar tidak peduli. Saya sama sekali tidak peduli," ujarnya kepada CNBC.

Trump mengatakan pembicaraan yang berlangsung berlarut-larut tersebut mulai kehilangan daya tarik baginya. Ia menyebut diskusi yang berkepanjangan dengan Iran "mulai menjadi sangat membosankan".

Iran Dikabarkan Hentikan Negosiasi

Komentar Trump muncul setelah laporan yang beredar pada Senin menyebut para negosiator Iran akan menghentikan pembicaraan dengan AS..

Langkah itu disebut sebagai respons terhadap operasi militer Israel di Lebanon yang terus diperluas, khususnya terhadap Hezbollah yang selama ini menjadi sekutu utama Teheran di kawasan.

Selain menghentikan perundingan, laporan tersebut juga menyebut Iran berencana "menutup sepenuhnya" Selat Hormuz.

Ketika ditanya apakah pihak Iran telah secara langsung memberitahukan keputusan tersebut kepadanya, Trump menjawab singkat.

"Tidak, mereka belum melakukannya," katanya.

Trump juga mengaku akan meminta penjelasan langsung dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait perkembangan situasi di Lebanon.

"Saya akan bertanya" kepada Netanyahu "apa yang sedang terjadi di Lebanon," ujar Trump.

Ketegangan Israel-Hizbullah

Beberapa jam setelah wawancara tersebut, Trump mengunggah pernyataan melalui Truth Social yang mengindikasikan adanya perkembangan positif terkait konflik Israel dan Hizbullah.

Trump mengatakan dirinya telah melakukan pembicaraan yang sangat produktif dengan Netanyahu. "Saya melakukan percakapan yang sangat produktif," tulis Trump.

Ia mengeklaim bahwa tidak akan ada pengerahan pasukan menuju Beirut.

"Tidak akan ada pasukan yang menuju Beirut, dan setiap pasukan yang sedang dalam perjalanan telah diperintahkan untuk kembali," tulisnya.

Dalam unggahan yang sama, Trump juga menyatakan telah berkomunikasi dengan Hizbullah melalui pihak-pihak yang memiliki posisi penting. Menurut Trump, kelompok tersebut menyetujui penghentian aksi saling serang dengan Israel.

"Mereka sepakat bahwa semua aksi tembak-menembak akan dihentikan. Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel," tulis Trump.

Sementara itu, dalam unggahan terpisah, Trump tetap menunjukkan optimisme terhadap jalur diplomasi dengan Iran. "Pembicaraan terus berlanjut, dengan sangat cepat, dengan Republik Islam Iran," tulisnya.

Ancaman ke Beirut

Namun pernyataan Trump tidak sepenuhnya sejalan dengan sikap pemerintah Israel.

Dalam unggahan di platform X pada Senin malam, Netanyahu menegaskan dirinya telah menyampaikan langsung kepada Trump bahwa Israel tetap siap meningkatkan operasi militernya apabila serangan Hezbollah berlanjut.

"Jika Hizbullah tidak menghentikan serangan terhadap kota-kota dan warga kami, Israel akan menyerang target-target teror di Beirut," tulis Netanyahu.

Ia menambahkan bahwa posisi Israel tidak berubah. "Posisi kami tetap tidak berubah. Pada saat yang sama, Pasukan Pertahanan Israel akan terus beroperasi sesuai rencana di Lebanon selatan," lanjutnya.

Trump Tak Khawatir Harga Minyak Naik

Ketika ditanya mengenai lonjakan harga minyak akibat ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, Trump menunjukkan sikap yang relatif santai.

Harga minyak sebelumnya sempat melonjak setelah kantor berita Iran Tasnim melaporkan Teheran menghentikan negosiasi dan memperketat pengawasan di selat tersebut. Meski demikian, Trump yakin tekanan harga energi hanya bersifat sementara.

"Saya pikir harga minyak akan jatuh seperti batu dalam waktu yang sangat dekat, sangat dekat," katanya.

Trump juga menilai masyarakat Amerika akan memahami jika perang menyebabkan harga bahan bakar naik sementara waktu. Menurutnya, publik akan menerima konsekuensi ekonomi tersebut apabila memahami bahwa tujuan utama konflik adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

"Begitu Anda menjelaskan bahwa semua ini berkaitan dengan Iran yang memiliki senjata nuklir, orang-orang bersedia membayar sedikit lebih mahal," ujarnya.

Ia kemudian kembali menegaskan keyakinannya bahwa harga bahan bakar akan segera turun.

Nasib Perundingan

Meski pemerintahannya terus menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, Trump secara bersamaan menunjukkan bahwa dirinya tidak memiliki urgensi besar untuk segera menghidupkan kembali negosiasi yang macet.

Menurutnya, jika pembicaraan berakhir maka hal itu bukan masalah besar. Trump kembali mengulangi kritiknya terhadap proses diplomasi yang menurutnya berjalan terlalu lambat.

"Sejujurnya, saya pikir pembicaraan itu mulai menjadi sangat membosankan," ujarnya.

Ketika ditanya apakah sudah saatnya secara resmi mengakhiri gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang secara nominal masih berlaku, Trump memilih tidak memberikan jawaban tegas.

"Anggap saja saya tahu persis apa yang Anda tanyakan ... dan saya memang agak tahu. Mengapa saya harus memberi tahu Anda?" katanya.

Trump Sindir NATO

Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyinggung peran sekutu-sekutu AS di NATO. Dia menilai negara-negara NATO seharusnya ikut membantu karena mereka jauh lebih bergantung pada pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz dibandingkan Amerika Serikat.

Menurutnya, AS tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap jalur tersebut. "Kami tidak membutuhkannya, kami memiliki banyak minyak," ujarnya.

Namun saat ditanya apakah dirinya telah meminta NATO ikut serta dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz, Trump memberikan jawaban yang menunjukkan keraguan.

"Mereka akan melakukannya jika saya menginginkannya, tetapi saya tidak yakin saya menginginkannya," katanya.

Trump bahkan menilai Amerika Serikat tidak membutuhkan keterlibatan NATO dalam situasi tersebut. "Kami tidak membutuhkan mereka. Kami tidak membutuhkan NATO," ujarnya.

Presiden AS itu juga melontarkan kritik keras terhadap sikap aliansi militer Barat tersebut. "Mereka sangat, sangat lemah dan sangat menyedihkan dalam apa yang mereka katakan," kata Trump.

Menurut Trump, respons yang diterimanya dari NATO hanya berupa janji bantuan setelah perang berakhir.

"Mereka berkata, 'Kami akan membantu Anda segera setelah perang berakhir'," ujarnya.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 14 Update Perang AS-Iran, Siaga Pertempuran Baru-BBM Rp43 Ribu di Sini


Most Popular
Features