MARKET DATA
CNBC Insight

Nekat Terobos Makkah, Pria Non Muslim Ini Pulang Jadi Mualaf

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
28 May 2026 07:30
Umat ​​Islam melaksanakan salat subuh di Masjidil Haram selama ibadah haji tahunan di kota suci Mekkah, Arab Saudi, 2 Juni 2025. Saudi Press Agency/Handout via REUTERS
Foto: via REUTERS/SAUDI PRESS AGENCY

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada akhir abad ke-19, dunia Islam dikejutkan oleh kisah seorang ilmuwan asal Belanda bernama Christiaan Snouck Hurgronje. Pria kelahiran 8 Februari 1857 itu dikenal sebagai salah satu orientalis paling kontroversial dalam sejarah karena berhasil memasuki Kota Suci Makkah, wilayah yang saat itu tertutup bagi non-Muslim.

Setiap musim Haji, Makkah dikunjungi banyak orang dari berbagai suku, ras, dan agama. Namun, pemerintah Arab Saudi cukup ketat menyeleksi setiap orang yang datang. Sebab aturan menetapkan non-Muslim dilarang masuk ke Makkah. Jika tetap nekat, maka orang tersebut bakal ditangkap.

Lahir dari keluarga Kristen taat di Belanda, Snouck justru tumbuh dengan ketertarikan besar terhadap Islam. Ayahnya merupakan seorang pendeta, tetapi sejak muda ia lebih tertarik mempelajari bahasa Arab, tradisi Timur Tengah, dan kehidupan umat Muslim. Bahkan, sebagian catatan menyebut Snouck kemudian menjadi ateis atau agnostik.

Hampir setiap hari dia berada di perpustakaan membaca banyak literatur soal dunia Islam. Dia juga mempelajari bahasa dan kebudayaan Islam. Tak heran, dia cukup fasih dan sangat paham Islam dibanding pemuda Eropa lain.

Ketertarikan terhadap dunia Islam membuatnya menulis penelitian pada 1880 di Universitas Leiden. Judulnya, Het Mekkaacnshe Feest (Perayaan Makkah). Menurut Hamid Algadri dalam Politik Belanda terhadap Islam dan keturunan Arab di Indonesia (1988), penelitian dibuat tanpa pernah dia datang ke Makkah dan hanya berdasarkan pembacaan atas beragam sumber.

Keinginan pria kelahiran 8 Februari 1857 ini untuk datang ke Makkah baru kesampaian pada Desember 1884. Bermodalkan dana dari pemerintah Belanda, dia akhirnya tiba di Arab Saudi. Dia kemudian tinggal di Jeddah di kediaman temannya.

Dalam memoar, Snouck sadar sulit untuk masuk Makkah mengingat statusnya sebagai non-Muslim. Apalagi jika ingin melakukan penelitian tentang Islam. Maka, dia pun mengubah citra diri, yakni membuat nama baru dari Snouck Hurgronje menjadi Abdul Ghaffar.

Lalu, dia juga memutuskan untuk masuk Islam. Sekitar 1885, dia mengucap dua kalimat syahadat. Namun, keputusan pindah agama menuai perdebatan. Wim Van Den Doel dalam Snouck: Biografi Ilmuwan Christiaan Snouck Hurgronje (2023) menyebut, banyak orang tak percaya Snouck tulus masuk Islam.

Sebab, dia hanya membutuhkan Islam sebagai identitas agar mudah masuk Makkah. Lebih dari itu, ada juga orang menganggap perpindahan agama dibuat supaya Snouck bisa mengetahui kelemahan Islam.

Terlepas dari pro dan kontra, Snouck akhirnya tercatat secara administrasi sebagai Muslim dan melakukan kewajiban pria Muslim dewasa, yakni sunat. Pada 21 Februari 1885, penis Snouck dipotong oleh tukang sunat. Kelak, pemotongan penis memudahkan jalannya menuju Makkah.

Saat tiba di Tanah Suci, Snouck awalnya tak diperbolehkan masuk oleh polisi Arab. Polisi menduga dia non-Muslim karena berpenampilan fisik orang Eropa. Toh, sulit juga membuktikan langsung apakah dia Muslim atau tidak dari identitas. Satu-satunya cara adalah menunjukkan penis bekas disunat.

Alhasil, Snouck pun menurunkan celana dan menunjukkan penis bekas disunat kepada petugas. Dari sini, mereka percaya bahwa Snouck beragama Islam. Maka, masuklah dia ke Makkah dan menjadikannya sebagai ilmuwan Eropa pertama yang tiba di Tanah Suci.

Selama di Makkah, Snouck sukses menyamar sebagai ilmuwan Muslim. Dia mengambil banyak bahan penelitian terkait Islam, termasuk melakukan umrah. Namun, keberadaannya di Makkah hanya 6 bulan. Dia diusir otoritas terkait yang mendapat laporan bahwa dia melakukan penyamaran. Alias memalsukan status Islam sekalipun sudah menunjukkan penis bekas sunat.

Meski begitu, Snouck tetap merampungkan penelitian. Kelak, dia menjadi penasihat khusus pemerintah Belanda untuk mempelajari kehidupan umat Muslim di Indonesia. Pada 1890-an, dia tinggal di kota-kota Indonesia, dari Aceh hingga Jakarta, untuk memberi saran "menangani" umat Muslim Indonesia.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.
(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Panas Perang AS-Iran di Timur Tengah,Bisnis Umrah Terancam Rugi


Most Popular
Features