Purbaya Masih Borong SBN di Pasar, Operasi Jaga Rupiah Berlanjut
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan masih melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) atau treasury operation untuk menjaga stabilitas yield pasar Indonesia di tengah tekanan terhadap rupiah dan keluarnya dana asing dari pasar keuangan.
Direktur Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Astera Primanto Bhakti menjelaskan pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) masih berlangsung hingga Senin (26/5/2026).
"Masih (berlangsung)," ujar Prima saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (26/5/2026) malam.
Namun, hingga saat ini Kementerian Keuangan belum mengungkapkan capaian pembelian kembali surat utang yang dilego asing tersebut.
Seperti yang diketahui, sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan pihaknya menyiapkan pagu anggaran Rp 2 triliun per hari.
"Ya progresnya makin baik lah (dari update sebelumnya)," ujarnya.
Sebagai informasi, pada perdagangan Rabu (13/5/2026), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah masuk ke pasar dengan membeli SBN yang dilepas investor sebesar Rp 100 miliar, kemudian Senin (18/5/2026) kembali intervensi Rp 800 miliar, dan Selasa (19/5/2026) sebesar Rp 1,3 triliun.
"Hari ini masuk (intervensi pasar) Rp 1,3 triliun ya, akibatnya yield bond turun," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (19/5/2026).
Dengan demikian, pada perdagangan hari ini investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi domestik. Sementara itu, di pasar sekunder, dana asing tercatat masuk sekitar Rp 500 miliar dan dana asing masuk di pasar primer mencapai sekitar Rp 1,68 triliun.
"Jadi tindakan kita menjaga stabilitas bond market itu sudah bisa mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap bond kita. Mereka mulai masuk," katanya.
Adapun, intervensi Purbaya tersebut dilakukan melalui operasi treasury oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Suminto menjelaskan, pembelian tersebut bukan buyback permanen, melainkan pembelian sementara yang nantinya bisa dijual kembali ke pasar. Pembelian ini pun dilakukan di secondary market.
"Jadi pembelian sementara bisa dijual lagi. Bukan buyback putus tapi pembelian SBN yang dapat digunakan untuk treasury operation termasuk dijual kembali," ujar Suminto kepada pewarta Selasa malam (20/5/2026).
Menurutnya, langkah ini berbeda dengan kebijakan pengurangan penerbitan utang baru. Sebab, strategi yang dijalankan saat ini murni operasi stabilisasi pasar, bukan perubahan strategi pembiayaan APBN. Adapun, penentuan surat utang mana yang dibeli, baik secara tenor dan harga, berada di tangan Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu Astera Primanto Bhakti sebagai cash manager.
"Kalau dari sisi issuance kan kami akan mengatur issuance kami. Dari sisi timing, size, komposisi instrumen Ini kan pak Prima (Dirjen Perbendaharaan) melakukan treasury operation," ujarnya.
Namun, Suminto menegaskan operasi ini bukan skema bond stabilization framework (BSF) yang sebelumnya dikaitkan dengan keterlibatan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
"(Melibatkan Himbara) Itu kan kalau nanti Kalau ada bond stabilization framework gitu. Sekarang kan kita tidak mengaktifkan bond stabilization framework (BSF). Jadi sekarang kan cash management Treasury operation aja Jadi pakai duitnya Pak Prima aja bukan pakai duitnya orang lain, bukan pakai duitnya SMV," paparnya.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]