MARKET DATA
Internasional

Apa Itu Abraham Accords? Syarat Trump ke Iran-Arab Jadi Sahabat Israel

tfa,  CNBC Indonesia
26 May 2026 14:00
FOTO ARSIP: Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif Al Zayani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed berpartisipasi dalam penandatanganan Perjanjian Abraha
Foto: REUTERS/Tom Brenner

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kejutan dalam geopolitik Timur Tengah. Kali ini ia membawa Abraham Accords (Perjanjian Abraham) sebagai "syarat" damai perang AS dan Iran.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyampaikan apresiasi kepada negara-negara Timur Tengah yang mendukung agenda perdamaian di kawasan tersebut. Ia kemudian menyinggung bagaimana negara-negara Arab akan tergabung dengan Abraham Accords, termasuk Iran.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih, sejauh ini, kepada semua negara di Timur Tengah atas dukungan dan kerja sama mereka, yang akan semakin ditingkatkan dan diperkuat dengan bergabungnya mereka ke dalam negara-negara yang tergabung dalam Kesepakatan Abraham yang bersejarah," tulisnya dikutip Selasa (26/5/2026).

"Dan siapa tahu, mungkin Republik Islam Iran juga ingin bergabung!" tulis Trump.

Pernyataan itu langsung memicu perhatian global. Pasalnya, Iran selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling keras menentang Israel dan kehadirannya di Arab.

Lalu, apa itu Abraham Accords?

Abraham Accords merupakan kesepakatan diplomatik bersejarah yang diteken pada September 2020 di Gedung Putih, Washington DC. Perjanjian ini dimediasi langsung oleh pemerintahan Trump dan menjadi tonggak baru terbukanya hubungan Israel dengan negara-negara Arab dan Muslim.

Kesepakatan awal ditandatangani antara Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain. Setelah itu, Sudan dan Maroko ikut bergabung.

Nama "Abraham" diambil dari figur Nabi Ibrahim yang dihormati dalam tiga agama besar dunia, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Kesepakatan ini disebut sebagai simbol upaya membangun koeksistensi dan kerja sama lintas agama di Timur Tengah.

Isi deklarasi Abraham Accords menekankan pentingnya perdamaian, toleransi, dialog antar agama, hingga kerja sama ekonomi dan teknologi. "Kami percaya bahwa cara terbaik untuk mengatasi tantangan adalah melalui kerja sama dan dialog," demikian bunyi salah satu poin deklarasi Abraham Accords dikutip dari situs Gedung Putih.

Negara Muslim Jadi "Sahabat" Israel

Abraham Accords menjadi perubahan besar dalam politik Timur Tengah. Selama puluhan tahun, mayoritas negara Arab menolak mengakui Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.

Namun lewat kesepakatan ini, sejumlah negara Muslim mulai membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel, termasuk penerbangan langsung, perdagangan, investasi, hingga kerja sama teknologi dan kesehatan. UEA misalnya, kini memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Israel di berbagai sektor strategis, mulai dari energi, teknologi air, kecerdasan buatan, hingga pertahanan.

Langkah itu juga dipandang sebagai strategi AS untuk membangun poros baru di Timur Tengah di tengah rivalitas dengan Iran. Salah satunya diungkap analis di Carnegie Endowment for International Peace, lembaga riset kebijakan publik (think tank) yang berpengaruh di bidang hubungan internasional.

AS ingin menjadikan Abraham Accords sebagai semacam payung koordinasi politik, ekonomi, dan keamanan antara Israel, negara-negara Teluk, dan mitra regional lain. Tujuannya menjaga pengaruh AS sambil mengurangi kebutuhan intervensi militer langsung.

"Perang terbaru justru menunjukkan lemahnya ketergantungan lama Teluk-AS, sehingga Washington mencari format baru yang lebih fleksibel," ujar analis di sana.

Iran Bisa Gabung?

Trump sendiri melempar bola dengan mengajak Iran bergabung. Jika Iran benar-benar berubah arah, hal itu akan menjadi salah satu pergeseran geopolitik terbesar dalam sejarah modern kawasan tersebut.

Meski Trump melempar sinyal, peluang tersebut dinilai masih sangat berat. Hingga kini, Iran tetap menjadi musuh utama Israel di kawasan, yang secara konsisten menolak mengakui Israel dan mendukung sejumlah kelompok anti-Israel di Timur Tengah.

Mengutip Washington Post, wacana "Iran ikut Abraham Accords", itu lebih banyak dibaca pengamat sebagai tekanan diplomatik dan pesan politik dari AS, bukan sesuatu yang benar-benar hampir terjadi. Saat ini tidak ada sinyal resmi bahwa Teheran siap berubah posisi.

(tfa/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Beri Label "Pangkalan Musuh" ke Negara Arab Ini, Ancam Bombardir


Most Popular
Features