Chaos terjadi di Turki. Ini terkait "perang saudara", perebutan kepemimpinan partai oposisi di sana. Polisi anti huru hara Turki menembakkan gas air mata dan menerobos barikade untuk memasuki markas besar Partai Rakyat Republik (CHP), Minggu. (REUTERS/Efekan Akyuz)
Kepulan gas air mata yang membubung di dalam gedung, bersamaan dengan kerumunan orang yang mendirikan barikade, membentengi diri, berteriak, dan melemparkan benda-benda ke arah polisi. Insiden itu terjadi setelah pengadilan Turki pada 21 Mei memutuskan untuk mencopot Ozgur Ozel dari jabatannya sebagai Ketua CHP, membatalkan hasil kongres partai tahun 2023 di mana ia terpilih dengan alasan "ketidakberaturan". (REUTERS/Efekan Akyuz)
Pengadilan mengembalikan jabatan presiden kepada pendahulunya, Kemal Kilicdaroglu, yang kalah dari Recep Tayyip Erdogan dalam pemilihan presiden tahun yang sama. Kemudian, pendukung Kilicdaroglu bentrok dengan pendukung Ozel di luar gedung markas besar. Setelah kerumunan bubar, pengacara Kilicdaroglu mengirimkan permintaan tertulis kepada polisi Ankara untuk bantuan dalam proses penyerahan.(REUTERS/Efekan Akyuz)
Kantor gubernur Ankara kemudian mengatakan telah memerintahkan polisi untuk membubarkan paksa kerumunan yang berkumpul di markas CHP, yang menyebabkan bentrokan. (REUTERS/Efekan Akyuz)
Sebelumnya sejumlah analis menilai pemerintah otoriter. "Pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan merusak demokrasi Turki dengan taktik kasar terhadap CHP," kata sebuah LSM hak asasi manusia terkemuka, Human Rights Watch, dikutip AFP, Senin. Ini pukulan telak terbaru yang sangat merusak bagi supremasi hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia di Turki," tambahnya. (REUTERS/Efekan Akyuz)
Sementara itu, kejadian ini membuat investor ketar-ketir. Roger Mark, analis pasar negara berkembang dari Ninety One, mengatakan risiko terbesar saat ini adalah masyarakat dan investor lokal berbondong-bondong meninggalkan lira dan beralih ke mata uang asing. "Risiko utamanya adalah dolarisasi domestik," ujar Mark, merujuk pada potensi aksi jual besar-besaran lira. (REUTERS/Efekan Akyuz)