Internasional

Media Asing Sorot Rupiah, Sebut Ini

sef, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 08:40 WIB
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Media asing mulai menyoroti rupiah. Salah satunya laman Singapura, Channel News Asia (CNA).

Media itu menulis judul "Why is the Indonesian rupiah falling, and could confidence be cracking?". Dimuat bagaimana rupiah disebut menghadapi tekanan baru, dan merosot ke level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor atas prospek fiskal negara tersebut.


"Nilai tukar rupiah telah melemah hingga sekitar 17.600 rupiah terhadap dolar AS, melampaui angka simbolis 17.000 yang telah lama dianggap pasar sebagai ambang batas psikologis," tulis laman itu dalam artikel yang tayang Kamis, dikutip Jumat (22/5/2026).

"Banyak warga Indonesia mengaitkan angka ini dengan Krisis Keuangan Asia 1998, ketika rupiah runtuh, inflasi melonjak, bank-bank bangkrut, dan kerusuhan meluas akhirnya mengakhiri pemerintahan mantan presiden Suharto selama tiga dekade," klaimnya.

"Rupiah telah terdepresiasi sekitar 5% sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia," tulis laman itu.

"Meskipun analis menekankan bahwa ekonomi Indonesia jauh lebih kuat daripada saat krisis akhir tahun 1990-an, penurunan tajam tersebut masih membuat investor gelisah dan kembali memicu kekhawatiran tentang inflasi dan arah kebijakan."

Seorang pengamat dari perusahaan fintech Ebury juga dikutip. Ia menyebut kenaikan harga minyak tentu tidak menguntungkan, dan ini menyebabkan beberapa kekhawatiran di bidang inflasi.

Pengamat lokal dari Bank Permata, Josua Parade juga diminta keterangan. Dikatakannya, investor khawatir bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya subsidi dan kompensasi, melemahkan kredibilitas fiskal, mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi, dan membatasi ruang gerak Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan.

"Kekhawatiran tersebut menyebar ke seluruh pasar keuangan," muat CNA lagi.

"Saham Indonesia telah jatuh tajam, sementara penurunan rupiah telah mendorong intervensi berulang kali oleh bank sentral untuk menstabilkan mata uang," tambahnya.

"Investor juga meneliti arah ekonomi pemerintah secara lebih luas, termasuk kekhawatiran tentang kredibilitas kebijakan dan peran negara yang semakin besar dalam bisnis."


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah 'Dihantam' Dolar AS, Menkeu: Jangan Panik!