Internasional

Mojtaba Khamenei Tiba-Tiba Bertitah Soal Nuklir Iran: Lawan Trump!

tps, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 06:10 WIB
Foto: Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menghadiri pertemuan di Teheran, Iran, 13 Oktober 2024. (via REUTERS/Hamed Jafarnejad)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengeluarkan perintah tegas bahwa persediaan uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir milik negara itu tidak boleh dikirim ke luar negeri. Mengutip Reuters, langkah ini langsung memperkeras posisi Teheran terhadap salah satu tuntutan utama Amerika Serikat (AS) dalam perundingan damai.

Seorang sumber senior Iran yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas masalah ini membenarkan adanya keputusan mutlak tersebut pada hari Kamis (21/05/2026). Pihak internal Teheran dikabarkan sudah satu suara mengenai masalah krusial ini.

"Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam lembaga, adalah bahwa persediaan uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini," kata sumber tersebut.


Para pejabat tinggi Iran meyakini bahwa mengirim material sensitif tersebut ke luar negeri justru akan membuat negara mereka menjadi jauh lebih rentan terhadap serangan di masa depan oleh AS dan Israel. Dalam sistem pemerintahan Iran, Khamenei memang memegang keputusan terakhir atas urusan negara yang paling penting.

Saat ini, gencatan senjata yang rapuh sedang berlangsung dalam perang yang dimulai dengan serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Setelah serangan itu, Iran membalas dengan menembaki negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS, serta memicu pertempuran sengit antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

Namun, hingga kini belum ada terobosan besar dalam upaya perdamaian karena adanya blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran dan kendali Teheran atas Selat Hormuz yang merupakan rute pasokan minyak global yang vital. Situasi ini pun mempersulit negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan.

Dua sumber senior Iran menyebutkan muncul kecurigaan mendalam di internal Teheran bahwa jeda pertempuran ini hanyalah tipu muslihat taktis dari Washington. AS dicurigai sengaja menciptakan rasa aman palsu sebelum akhirnya meluncurkan kembali serangan udara baru.

Negosiator perdamaian utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga mengendus adanya pergerakan mencurigakan dari pihak musuh pada hari Rabu kemarin. Hal tersebut mengindikasikan bahwa militer Amerika sedang mempersiapkan serangan-serangan baru.

"Langkah nyata dan tersembunyi oleh musuh menunjukkan bahwa orang-orang Amerika sedang mempersiapkan serangan baru," kata Qalibaf.

Di sisi lain, Trump pada hari Rabu juga menegaskan bahwa AS siap untuk melanjutkan serangan lebih lanjut ke Teheran jika Iran tidak menyetujui kesepakatan damai. Kendati demikian, Trump mengisyaratkan bahwa Washington masih bisa menunggu beberapa hari untuk mendapatkan jawaban yang tepat dari pihak Iran.

Sebelum perang pecah, Iran sempat mengisyaratkan kesediaannya untuk mengirimkan setengah dari persediaan uraniumnya yang telah diperkaya hingga 60%. Namun, para sumber mengatakan posisi itu berubah drastis setelah adanya ancaman berulang kali dari Trump untuk menyerang Iran.

Meskipun situasi tampak buntu, sumber Iran menyebutkan masih ada formula yang layak dan masuk akal untuk menyelesaikan masalah perebutan logistik nuklir ini tanpa harus mengirimnya keluar negara.

"Ada solusi seperti mengencerkan persediaan di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)," ujar salah satu sumber Iran tersebut.

Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai jumlah persediaan uranium yang tersisa setelah kompleks fasilitas nuklir Isfahan dan Natanz menjadi target serangan udara. Pihak Iran sendiri bersikeras bahwa sebagian uranium yang diperkaya tinggi tetap dibutuhkan untuk keperluan medis dan reaktor penelitian di Teheran.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump: Iran Harus "Kibarkan Bendera Putih"