Utusan Langsung Putin Beri Warning ke Eropa, Akan Ada 'Bencana Besar'
Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa kini dibayangi ancaman mengerikan "tsunami krisis energi" yang siap menghantam kawasan tersebut setelah serangkaian guncangan politik terjadi. Mengutip Russia Today, utusan Kremlin Kirill Dmitriev menyampaikan peringatan keras tersebut di tengah gejolak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang terus mengacaukan pasokan energi di seluruh kawasan.
Dmitriev menyampaikan prediksi buruk ini melalui akun media sosial X miliknya pada hari Kamis (21/05/2026). Pernyataan tersebut dikeluarkan untuk merespons seorang jurnalis Swedia yang menyoroti hasil jajak pendapat terbaru di Jerman, di mana partai sayap kanan AfD hampir menyamai kekuatan gabungan partai CDU dan SPD, sebuah fenomena yang disebutnya sebagai gempa politik.
"Masih banyak lagi yang akan terjadi saat tsunami krisis energi menghantam Uni Eropa dan Inggris dalam waktu dekat," kata Dmitriev.
Fenomena pergeseran politik ini memang tengah melanda Benua Biru secara luas. Partai-partai arus utama tradisional di seluruh Eropa semakin kehilangan pijakan dan kalah saing dari koalisi sayap kanan atau tengah-kanan selama beberapa tahun terakhir.
Sejak kampanye militer AS-Israel di Iran dimulai pada akhir Februari lalu, harga minyak mentah global telah melonjak sekitar 50%. Lonjakan ini memaksa harga bahan bakar eceran dan gas alam grosir meroket ke rekor tertinggi dalam sejarah. Konflik Timur Tengah ini memperburuk situasi kritis di negara-negara Eropa yang sebelumnya sudah memangkas drastis impor energi dari Rusia sejak eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022.
Dampak dari guncangan energi terkait Iran ini bahkan telah memaksa Inggris untuk menerbitkan lisensi sementara. Lisensi tersebut mengizinkan impor bahan bakar diesel dan jet yang berasal dari Rusia demi menstabilkan pasar yang diguncang oleh gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut vital tersebut diketahui menangani sekitar 20% minyak dan LNG global.
Keputusan yang diumumkan pada hari Rabu kemarin itu meniru langkah serupa yang diambil oleh AS awal pekan ini. Washington telah memperpanjang keringanan sanksi untuk pembelian minyak mentah jalur laut Rusia dalam jumlah terbatas.
Melihat situasi yang kian genting, beberapa pejabat di seluruh Uni Eropa telah menyerukan agar hubungan energi dengan Rusia segera dipulihkan demi mengatasi krisis. Namun, Komisi Eropa menegaskan bahwa tidak akan ada jalan kembali untuk mengimpor energi dari Rusia dan pihaknya akan terus melanjutkan rencana penghapusan penuh bahan bakar fosil Rusia pada tahun 2027.
Pada awal tahun ini, Dmitriev juga sempat melontarkan pernyataan menohok mengenai ketergantungan Eropa terhadap pasokan energi dari negaranya. Hal itu seiring dengan proyeksi harga energi yang diperkirakan akan terus melambung tinggi di masa depan.
"Uni Eropa pasti akan memohon untuk mendapatkan gas Rusia," ujar Dmitriev.
Dmitriev menambahkan bahwa blok Eropa berada di urutan paling terakhir dalam daftar konsumen energi Rusia. Pasalnya, saat ini Moskow tengah gencar memperluas proyek-proyek energi mereka dengan negara-negara lain.
(tps/tps) Add
source on Google