Anak Buah Trump: Saatnya AS Menancapkan Kaki di Greenland
Jakarta, CNBC Indonesia - Ambisi lama Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland kembali membara setelah utusan khusus AS secara terang-terangan menyatakan bahwa Washington harus segera membangun kembali pangkalan militernya di wilayah otonom milik Denmark tersebut. Langkah ekspansif ini diklaim sangat mendesak demi kepentingan keamanan nasional AS guna menghalau dominasi militer dari Rusia maupun China di kawasan Arktik.
Mengutip laporan AFP pada Kamis (21/5/2026), Utusan Khusus AS untuk Greenland Jeff Landry menegaskan pentingnya menancapkan kembali pengaruh Washington di pulau yang kaya akan sumber daya mineral tersebut. Sebagai catatan, AS sempat memiliki 17 fasilitas militer di Greenland selama masa Perang Dingin, namun kini mereka hanya menyisakan satu fasilitas aktif yaitu pangkalan udara Pituffik di bagian utara pulau.
"Saya pikir ini saatnya bagi AS untuk menempatkan kembali jejak kakinya di Greenland," ujar Jeff Landry.
"Saya pikir Anda melihat presiden berbicara tentang peningkatan operasi keamanan nasional dan mengisi kembali pangkalan-pangkalan tertentu di Greenland," tambahnya.
Landry juga menambahkan klaim sepihak bahwa wilayah Greenland sebenarnya membutuhkan kehadiran perlindungan militer serta investasi dari Amerika Serikat. Keinginan Washington untuk membuka tiga pangkalan militer baru di bagian selatan pulau tersebut kini menjadi sorotan tajam, di mana pakta pertahanan tahun 1951 memang mengizinkan AS meningkatkan fasilitas militer asal memberi tahu Denmark dan Greenland terlebih dahulu.
Kunjungan Landry ke ibu kota Nuuk sejak hari Minggu lalu langsung memicu kontroversi besar dan kegaduhan politik karena sang utusan datang tanpa adanya undangan resmi dari pemerintah setempat. Menanggapi manuver AS tersebut, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyatakan bahwa meskipun ambisi negara besar untuk mengamankan kendali atas wilayahnya terkesan tidak menghormati kedaulatan, pihaknya tetap wajib mencari solusi terbaik.
"Meskipun keinginan seorang 'penguasa' untuk mengamankan kendali atas Greenland sepenuhnya tidak sopan, kami berkewajiban untuk menemukan solusi," tutur Jens-Frederik Nielsen.
Isu ini semakin memanas ketika Landry dalam wawancaranya dengan media lokal terkesan memprovokasi sentimen kemerdekaan dengan menyatakan bahwa kerja sama ekonomi dengan AS dapat melepaskan Greenland dari ketergantungan finansial terhadap Denmark. Gejolak pun melebar ke sektor kesehatan setelah seorang dokter asal AS yang ikut dalam rombongan Landry menyatakan kehadirannya bertujuan untuk menilai kebutuhan medis warga lokal secara sepihak.
Tindakan tim medis AS tersebut langsung memancing reaksi kemarahan dari Menteri Kesehatan Greenland Anna Wangenheim yang menolak keras wilayahnya dijadikan alat politik. Kebijakan pengiriman bantuan medis dari Washington ini dinilai sebagai bagian dari taktik geopolitik usai Denmark dan Greenland secara tegas menolak tawaran kapal rumah sakit angkatan laut yang sempat dikirim oleh Presiden Trump.
"Warga Greenland bukanlah kelinci percobaan dalam sebuah proyek geopolitik," tegas Anna Wangenheim.
(tps/sef) Add
source on Google