Harapan Baru Perang AS-Iran, 2 Kapal Raksasa China Tembus Selat Hormuz
Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan meredanya perang besar di Timur Tengah kembali muncul setelah dua kapal tanker raksasa asal China yang membawa minyak berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Rabu (20/5/2026).
Pergerakan kapal tersebut menjadi sinyal penting di tengah optimisme baru dari pemerintahan Amerika Serikat terkait peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi global selama hampir tiga bulan terakhir.
Data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker China itu membawa sekitar 4 juta barel minyak mentah Irak dan berhasil melintasi jalur sempit Selat Hormuz, kawasan yang selama perang praktis berada di bawah tekanan Iran dan menjadi titik krusial perdagangan energi dunia.
Adapun perkembangan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang kemungkinan akan berakhir "sangat cepat". Wakil Presiden AS JD Vance juga mengungkapkan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Teheran.
"Kami berada dalam posisi yang cukup baik di sini," kata Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih, dilansir Reuters.
Trump sendiri mengatakan dirinya nyaris mengambil keputusan untuk kembali melancarkan serangan ke Iran pada Selasa.
"Saya tinggal satu jam lagi untuk membuat keputusan melakukannya hari ini," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Ia menambahkan para pemimpin Iran kini "memohon" agar tercapai kesepakatan. Namun Trump tetap mengancam bahwa serangan baru AS akan terjadi dalam beberapa hari mendatang apabila tidak ada kesepakatan yang dicapai.
Pemerintahan Trump memang terus berada di bawah tekanan politik domestik untuk segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dan komoditas dunia. Harga bensin di AS masih tinggi, sementara tingkat kepuasan publik terhadap Trump disebut merosot menjelang pemilu Kongres pada November mendatang.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran telah memicu gangguan terbesar dalam sejarah pasokan energi global. Ratusan kapal tanker tertahan di kawasan Teluk, sementara fasilitas energi dan pelabuhan di berbagai negara ikut terdampak.
Meski dua tanker China berhasil keluar dari kawasan Teluk bulan ini, arus perdagangan energi dunia masih jauh dari normal. Harga minyak Brent sempat turun ke level US$110,16 per barel setelah muncul sinyal positif dari Gedung Putih dan kawasan Teluk, sebelum kembali menguat.
Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, mengatakan pasar kini terus memantau apakah Washington dan Teheran benar-benar bisa mencapai titik temu.
"Investor sangat ingin melihat apakah Washington dan Teheran benar-benar bisa menemukan titik temu dan mencapai kesepakatan damai, sementara posisi AS berubah setiap hari," katanya.
Sementara itu, meski nada optimisme mulai terdengar dari Washington, proses negosiasi disebut masih penuh hambatan. Vance mengakui AS kesulitan membaca posisi pasti para pemimpin Iran yang dianggap terpecah.
"Kadang-kadang tidak sepenuhnya jelas apa posisi negosiasi dari pihak mereka," ujar Vance.
Karena itu, menurut dia, AS kini berupaya memperjelas "garis merah" yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia juga menegaskan salah satu tujuan utama kebijakan Trump adalah mencegah perlombaan senjata nuklir meluas di Timur Tengah.
Dari pihak Iran, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan keputusan Trump menunda serangan menunjukkan Washington sadar bahwa langkah militer terhadap Iran akan memicu "respons militer yang menentukan."
Media pemerintah Iran melaporkan proposal damai terbaru Teheran mencakup penghentian seluruh permusuhan di berbagai front, termasuk di Lebanon, penarikan pasukan AS dari wilayah dekat Iran, serta pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS-Israel.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, seperti dikutip kantor berita IRNA, mengatakan Iran juga menuntut pencabutan sanksi, pembebasan dana yang dibekukan, dan penghentian blokade laut AS terhadap Iran.
Namun isi proposal tersebut dinilai tidak jauh berbeda dari tawaran sebelumnya yang pekan lalu disebut Trump sebagai "garbage".
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]