Penembakan Islamic Center AS: Hero Gugur, Anak-Anak Menangis di Lemari
Jakarta, CNBC Indonesia - Penembakan massal kembali terjadi di Amerika Serikat (AS). Kali ini di sebuah masjid, Islamic Center, di San Diego.
Kejadian terjadi Selasa pagi waktu setempat. Tiga orang tewas dalam penembakan yang melibatkan pelaku dua orang remaja, yang kemudian diketahui melakukan bunuh diri.
"Semua orang benar-benar terkejut," kata Ramzy, yang ayahnya menjadi korban tewas penembakan, sambil menatap kosong, dan berusaha memahami apa yang terjadi.
"Sulit dipercaya ini nyata. Kita semua masih mencoba memahaminya," tambahnya mencoba mengerti mengapa "Islamofobia" terjadi dihadapannya dan menewaskan orang tersayangnya.
Ya, Ramzy adalah anak dari Nader Anwar. Ayahnya adalah salah satu dari tiga korban tewas yang dipuji sebagai pahlawan pada kejadian tersebut.
Berkat tindakan Anwar, diketahui banyak nyawa selamat. Apalagi wilayah Islamic Center kala itu dipenuhi anak-anak yang sedang bersekolah.
Kronologi
Merujuk AFP, Rabu (20/5/2026), kejadian bermula dari kedua penyerang remaja itu menyerbu kompleks pusat Islam tersebut Senin, dengan niat untuk melakukan kejahatan. Tetapi mereka dihadang oleh petugas keamanan Amin Abdullah.
Ia mulai menembak mereka sambil membunyikan alarm melalui radio. Anwar dan seorang pria lain bernama Mansour Kaziha kemudian memancing para penembak kembali ke tempat parkir.
Menurut Ramzy awalnya ayahnya mendengar tembakan. Ini membuatnya berlari untuk membantu petugas.
"Dia mendengar tembakan dan berlari untuk membantu," kata Ramzy.
"Sayangnya, mereka berhasil membunuhnya ketika mereka keluar dari gedung," tambahnya menyebut ketiga pria tersebut akhirnya tewas di tempat kejadian.
Dalam updatenya, para penyidik kemudian mengidentifikasi penyerang sebagai Cain Clark, 17, dan Caleb Vazquez, 18. Keduanya ditemukan tewas dalam sebuah kendaraan tidak jauh dari lokasi kejadian.
Para penyidik meyakini mereka telah menembak diri sendiri. Penggeledahan FBI di rumah mereka menemukan puluhan senjata api, serta amunisi, perlengkapan taktis, dan peralatan elektronik, bersama dengan tulisan-tulisan ekstremis yang menguraikan apa yang menurut FBI adalah "keyakinan agama dan rasial tentang bagaimana dunia yang mereka bayangkan seharusnya terlihat".
Pahlawan
Kepolisian setempat menunjukkan bagaimana ketiga korban memang sosok pahlawan. Mereka berusaha menghalangi pelaku hingga tak memakan banyak korban.
"Tindakannya, tanpa diragukan lagi, menunda, mengalihkan perhatian, dan akhirnya mencegah kedua individu ini untuk mengakses area yang lebih luas di masjid, di mana sebanyak 140 anak berada dalam jarak 15 kaki (4,5 meter) dari para tersangka," kata Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl.
Seorang imam menunjukkan bagaimana terima kasihnya ia kepada para korban. Baginya mereka adalah sosok "hero" yang menyelamatkan nyawa, bahkan anak-anak kecil di sana yang sedang bersekolah.
"Jika dia tidak melakukan apa yang dia lakukan, dan mengorbankan nyawanya, kedua tersangka akan dengan mudah mengakses setiap ruang kelas," kata imam masjid Taha Hassane.
"Kami sangat bangga padanya... Saya melihat pesan-pesan tentang dia, secara harfiah dari seluruh dunia, yang berbicara tentang kepahlawanannya," tambahnya.
Anak-Anak Menangis Bersembunyi di Lemari
Sementara itu, saat kejadian, dilaporkan bagaimana anak-anak yang takut dan menangis bersembunyi dalam lemari kelas. Seorang anak berusia 9 tahun bernama Odai Shanah menceritakan pengalamannya saat bersembunyi kelas bersama teman-temannya ketika terjadi penembakan mematikan terjadi.
Odai mengatakan ia mendengar rentetan tembakan dari luar kompleks masjid yang juga memiliki sekolah Islam. Guru-guru dengan cepat membawa anak-anak masuk ke lemari untuk berlindung.
Mereka berdesakan di dalam ketakutan ketika suara tembakan terus terdengar. Setelah situasi mereda, tim SWAT datang dan mengevakuasi anak-anak keluar ruangan.
"Aku melihat hal-hal buruk", kata Odai saat dibawa keluar, mengatakan ia melihat korban yang tergeletak di lokasi, seraya menggambarkan tubuhnya gemetar dan merasa sangat takut, dimuat Reuters.
Dulu Kami Merasa Aman
Sebenarnya, kebingungan terpancar di wajah anggota komunitas Muslim yang tiba di masjid dengan membawa bunga di Islamic Center ,San Diego. Banyak yang terlalu terkejut untuk berbicara, hanya mengucapkan beberapa kata sebelum menangis atau terdiam.
Dengan pohon-pohon palem yang berdiri di samping menara dan rumah-rumah pinggiran kota yang biasa saja di sepanjang jalan, pinggiran kota ini menampilkan citra Amerika yang damai dan multikultural. Masjid tersebut berfungsi sebagai tempat pemungutan suara dan menarik jamaah dari Timur Tengah, Asia, Afrika, dan Eropa.
Imamnya secara teratur berpartisipasi dalam doa antaragama. Bahkan bersama pendeta gereja Protestan setempat.
"Komunitas Muslim ini, mereka benar-benar orang-orang baik," kata seorang tetangga yang sedang berjalan-jalan dengan anjingnya, Katelynn Fisk.
"Mereka tidak pernah memperlakukan siapa pun seolah-olah mereka berbeda, bahkan jika mereka tidak mengikuti keyakinan mereka," tambahnya.
Masjid ini, salah satu pusat Muslim terbesar di kota berpenduduk 1,4 juta jiwa ini. Masjid tersebut selalu menjadi tempat perlindungan.
"Dulu kami merasa aman di sini," kata Imani Khatib.
"Saya tidak mengerti mengapa kami menjadi sasaran," tambahnya.
Supermasi Kulit Putih
Seperti banyak tempat ibadah di seluruh AS kompleks masjid tersebut telah menjadi sasaran tindakan Islamofobia sporadis. Insiden semacam itu meningkat setelah serangan 11 September 2001 di World Trade Center di New York.
Konflik di Gaza dan Iran telah memicu gelombang permusuhan baru. Hassane menyalahkan serangan mematikan itu pada "meningkatnya supremasi kulit putih" serta pada "para pejabat terpilih kami (dan) beberapa media yang hanya merendahkan martabat Muslim dan merendahkan martabat setiap minoritas, orang kulit hitam, orang Latin".
"Kami menerima beberapa surat, email, dan pesan telepon, Anda tahu, yang menyalahkan kami atas semua hal yang salah di dunia," katanya kepada AFP.
"Tetapi memiliki penembak, maksud saya, itu tidak pernah terlintas dalam pikiran kami," tambahnya.
"Ketika kaum muda yang telah dicuci otaknya, mereka mendengar retorika ini dari media, dari para pejabat terpilih," jelasnya.
"Ini memberi mereka alasan, lampu hijau untuk melakukan kejahatan," ujarnya lagi.
(sef/sef) Add
source on Google