MARKET DATA

Gas CNG Lebih Aman dari LPG? Ini Penjelasan Lengkap Dirjen Migas

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
19 May 2026 21:20
5 Negara dengan Harga LPG Termurah & Termahal di Dunia
Foto: Infografis/ 5 Negara dengan Harga LPG Termurah & Termahal di Dunia/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengutamakan faktor keselamatan dalam rencana implementasi Compressed Natural Gas (CNG) sebagai energi alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg). Hal itu untuk memastikan infrastruktur pemanfaatan gas bumi domestik memiliki standar keamanan tinggi di tingkat konsumen akhir.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman menjelaskan mekanisme teknis terkait keamanan gas bumi yang dimampatkan tersebut. Ia menekankan bahwa kunci utama dari penggunaan CNG terletak pada kekuatan tabung dan katup (valve) yang dirancang khusus untuk menahan tekanan tinggi.

"Faktor yang paling nomor satu itu dulu. Kuncinya kalau CNG ini adalah bagaimana menyiapkan tabung dan valve-nya ini benar-benar kuat aman itu kuncinya ada di situ," ujarnya dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Selasa (19/5/2026).

Laode menyebutkan bahwa meskipun CNG memiliki tekanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan LPG, yakni mencapai 200 hingga 250 bar, risiko kebakarannya justru relatif lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh sifat fisik gas yang kuat dalam menghalau oksigen saat terjadi kebocoran di ruang terbuka, sehingga api sulit terbentuk.

"CNG kalau dia kebocorannya dalam tekanan yang besar itu, itu tiupan tekanannya lebih besar daripada daya oksigen itu berada diam di ruangan. Jadi dia kalau niup itu nggak akan ada apa-apa, tiup aja asal ruangan terbuka karena kuat tiupannya, tiupannya oksigen pun nggak akan bisa bereaksi di situ," paparnya.

Menurutnya, mengacu pada teori "segitiga api", kebakaran hanya dapat terjadi jika terdapat unsur bahan bakar, pemicu api, dan oksigen. Dengan tekanan tiupan gas yang masif, gas bumi mampu mencegah oksigen masuk ke dalam area kebocoran sehingga tidak memenuhi syarat terjadinya kebakaran spontan.

"Jadi kecuali kalau tekanannya lebih rendah diturunin baru muncul api sedikit tapi itu pun cukup ditutup aja sedikit udah ketutup dia. Jadi kita sebenarnya stigmata ini nih terlalu di apa memberatkan kita," tambahnya.

Pemerintah juga memilih menggunakan tabung Tipe 4 berbahan komposit fiber yang diklaim jauh lebih kuat namun ringan untuk menjamin keamanan operasional bagi pengguna rumah tangga. Penggunaan material ini dipandang sebagai solusi untuk mengatasi kekhawatiran publik terhadap aspek keselamatan gas bertekanan tinggi.

"Di setiap kita melakukan proses konversi diperlukan proses sosialisasi dulu. Nah sekarang kan dua nih tekanannya selain sosialisasi harus aman, sedikit ada sesuatu huh langsung meledak. Nah ini yang mungkin bagi kami di Ditjen Migas harus menyiapkan mekanisme ini sebaik mungkin," tandasnya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Siapkan Gas Pengganti LPG & Lebih Murah 30%, Ternyata Ini Alasannya


Most Popular
Features