Alarm! 9.000 Orang Bakal Kena Badai PHK Massal 3 Bulan ke Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengungkap ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terlihat di sejumlah kawasan industri. Potensi gelombang PHK disebut mulai menghantam sektor manufaktur hingga industri padat karya di beberapa daerah.
Wakil Presiden KSPI Kahar S. Cahyono mengatakan pihaknya sejak beberapa bulan terakhir sudah mengingatkan adanya ancaman pengurangan tenaga kerja di tengah tekanan ekonomi global dan situasi geopolitik yang memanas.
"Sejak beberapa bulan yang lalu, KSPI sudah mengingatkan akan adanya ancaman PHK di bawah bayang-bayang perang. KSPI sudah mengingatkan akan ada potensi 9.000 orang pekerja yang akan kehilangan pekerjaan atau ter-PHK di 10 perusahaan dalam tiga bulan ke depan," kata Kahar dalam konferensi pers, Selasa (19/5/2026).
Laporan PHK kini mulai masuk dari sejumlah perusahaan di wilayah industri seperti Bogor, Serang, hingga Sidoarjo. Beberapa perusahaan bahkan telah merumahkan ratusan pekerja dalam waktu berdekatan.
Di Kabupaten Serang misalnya, PHK disebut terjadi di PT Nikomas dengan jumlah pekerja terdampak mencapai 279 orang. Selain itu, ada PHK di PWI 2 sebanyak 223 orang serta PT Sin Han Babis sebanyak 176 orang. Sementara di Jawa Timur, PHK juga dilaporkan terjadi di PT dan CV Toyota Asri Motor dengan jumlah pekerja terdampak sekitar 200 orang.
"PHK itu saat ini sudah mulai ada. Jadi ini bukan lagi menjadi potensi karena sudah ada laporan yang masuk bahwa PHK itu saat ini sudah mulai terjadi," ujarnya.
KSPI juga menyoroti data Kementerian Ketenagakerjaan yang mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026. Lonjakan terbesar disebut terjadi pada April.
"Di bulan Januari hingga Maret itu jumlah yang ter-PHK ada 8.389 orang. Dan di bulan April itu ada peningkatan jumlah orang yang ter-PHK mencapai 7.036 orang atau setara dengan 83,9% hanya dalam rentang waktu satu bulan," kata Kahar.
Selain faktor geopolitik global, KSPI menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri ikut menekan kondisi perusahaan. Peningkatan biaya energi dinilai langsung memukul ongkos produksi, terutama di sektor manufaktur dan industri padat karya.
"Ketika BBM industri itu meningkat, maka otomatis ongkos dari produksi juga akan naik. Dan ketika ongkos produksi naik, perusahaan akan melakukan efisiensi dan salah satu korbannya adalah para pekerja karena mereka akan kehilangan pekerjaan," katanya.
(hoi/hoi) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]