Redam Gejolak, Begini Strategi Pemerintah Jaga APBN Tetap Sehat
Jakarta, CNBC Indonesia - Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan, Herman Saheruddin mengungkap strategi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kuat di tengah gejolak ekonomi global. Salah satunya dengan menjaga kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap sehat dengan defisit yang terkendali.
"Komitmen kami di Kemenkeu tentu tetap menjaga APBN tetap bisa shock absorber sehingga masyarakat Indonesia baik dari sisi konsumsi tetap dapat menjalankan aktivitas dengan baik," ujarnya dalam SMBC Indonesia Economic Forum 2026, Selasa (19/5/2026).
Untuk diketahui, hingga triwulan I-2026 ekonomi Indonesia tetap tumbuh hingga 5,61%. Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi diantara negara G20. Ada pun pertumbuhan itu kata Herman ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,52% dengan kontribusi hingga 54,4%.
Sementara penopang lainnya dari investasi yang tumbuh 5,96% dan konsumsi pemerintah tumbuh 21,8% dengan kontribusi 6,7%.
"Jadi tiga hal utama ini yang pertama konsumsi rumah tangga domestik kedua investasi domestik dan ketiga konsumsi pemerintah semua ini faktor domestik dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa ini menunjukkan betapa besar potensi domestik kita kalau diarahkan dengan benar," terangnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, melalui fungsi fiskal yang dimiliki di APBN, Pemerintah kini lebih disipilin menerapkan anggaran dengan tepat waktu. Artinya Pemerintah menjaga pengeluaran dengan hati-hati dan waktu yang tepat.
Langkah ini sangat penting dilakukan, karena dinilainya bisa menciptakan multiplier effect baik dari konsumsi maupun investasi.
"Mungkin biasa di korporat kalau misalnya anggaran itu biasanya dihabiskan jelang q3 dan q4 bagi kami Pemerintah dengan APBN alat fiskal menunda konsumsi, artinya menunda multiplier effect oleh sebab itu salah satu strategi yang kami lakukan adalah melakukan ini. Kalau lihat beberapa sektor pertumbuhan besar antara lain industri perdagangan, pertanian, termasuk informasi komunikasi makanan minuman kemudian sharenya tadi pengolahan dan perdagangan lebih dari 10% dari pertumbuhan GDP jadi ini yang kami sebut spending berdampak karena government spending yang bagus adalah yang disiplin berdampak dan tepat waktu," terangnya.
(dpu/dpu) Add
source on Google