RI Mau Garap Gas Baru Pengganti LPG 3 Kg, Ini Sumber Tabungnya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 20:10 WIB
Foto: Pekerja memindahkan tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran 3kg di salah satu agen di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Rabu (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara terkait persiapan tabung untuk alternatif energi pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilo gram (kg), yakni gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG). Rencananya, tabung CNG ini nantinya akan berukuran yang sama dengan tabung LPG 3 kg saat ini. Saat ini, pemerintah tengah mematangkan persiapannya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman membeberkan, pada tahap awal, pemerintah berencana mendatangkan tabung gas khusus tersebut melalui skema impor dari China karena keterbatasan penguasaan teknologi di dalam negeri.

Menurutnya, pemilihan China didasarkan pada kesiapan manufaktur yang mampu memproduksi tabung berteknologi tinggi. Ia menyebut rencana impor tersebut bersifat sementara sebagai bagian dari perintisan proyek sebelum nantinya diproduksi secara massal dan mandiri di Indonesia.


"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum. Tetapi kalau skalanya sudah masif, bisa nanti kita alihkan ke dalam. Benchmark sekarang ke China, tahap awal ya," jelasnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Pemerintah juga tengah menyiapkan tabung CNG Tipe 4 yang terbuat dari material komposit fiber untuk mengemas gas bumi tersebut. Berbeda dengan tabung besi konvensional (Tipe 1) yang digunakan untuk elpiji, tabung baru ini diklaim jauh lebih ringan namun memiliki kekuatan tinggi untuk menahan tekanan gas yang mencapai 250 bar.

"Tipe 4 ini sudah sangat ringan, jadi dia komposit fiber, sangat ringan, kuat, dan pada kondisi hari ini Tipe 4 ini insya Allah nanti dengan roadmap nanti yang sudah ditetapkan oleh Pak Menteri, insyaallah Tipe 4 ini untuk tabung 3 kg itu nanti akan pertama di dunia itu adalah di Indonesia," paparnya dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Senin (18/5/2026).

Penggunaan material fiber menjadi kunci utama dalam menjaga aspek keselamatan mengingat perbedaan tekanan antara elpiji dan CNG yang sangat signifikan. Jika LPG konvensional hanya memiliki tekanan sekitar 5 hingga 10 bar, maka CNG membutuhkan wadah yang mampu menampung tekanan antara 200 hingga 250 bar.

"Faktor yang paling nomor satu itu (safety). Kuncinya kalau CNG ini adalah bagaimana menyiapkan tabung dan valve-nya ini benar-benar kuat aman itu kuncinya ada di situ. Tekanannya 200 sampai 250 bar," tambahnya.

Pihaknya menargetkan pemesanan perdana tabung gas ini dapat dilakukan dalam tiga bulan ke depan dengan jumlah minimal sekitar 100.000 unit. Rangkaian proyek percontohan atau pilot project penggunaan gas bumi ini direncanakan akan menyasar kota-kota besar di Pulau Jawa untuk menguji kesiapan infrastruktur distribusinya.

"Dari sisi timeline insya Allah 3 bulan ke depan kita melakukan first order untuk hal tersebut lalu dalam 1-2 bulan setelah itu kita sudah ada tabung yang bisa kita uji dulu. Minimum order ya 100 ribuan (tabung 3 kg) gitu," paparnya.

Melalui rencana konversi ke CNG, pemerintah memproyeksikan penghematan biaya subsidi dan pengeluaran devisa negara sekitar 30% hingga 40%. pihaknya menilai hal itu sebagai terobosan untuk mencapai kemandirian energi nasional dengan memanfaatkan cadangan gas bumi domestik yang ketersediaannya jauh lebih melimpah dibandingkan minyak bumi.

"Gas kita punya banyak melimpah harganya murah tapi tabungnya yang mahal karena dia materialnya khusus. Setelah dihitung-hitung sebenarnya masih tetap diperlukan adanya subsidi, tetapi subsidi itu berkurang tadi bisa 30-40%," tandasnya.

Pengembangan Tabung CNG 3 kg

Sebelumnya, Laode sempat menjelaskan pengembangan tabung gas jenis komposit untuk ukuran kecil merupakan terobosan baru di dunia. Pemerintah saat ini sedang fokus merampungkan proses paten, serta standardisasi agar tabung tersebut siap dan aman digunakan oleh masyarakat.

Pemerintah mengevaluasi bahwa tabung konvensional atau Tipe 1 yang dipakai saat ini memiliki keterbatasan dari sisi berat beban operasional. Inovasi ke material fiber tersebut diharapkan bisa mempermudah distribusi gas ke konsumen.

Inovasi tersebut juga dinilai bisa meningkatkan keamanan karena karakteristik materialnya mampu menahan tekanan tinggi dengan lebih stabil.

"Penelitian untuk kita menggunakan CNG ini sudah cukup lama dan ada dua komponen penting di bagian tabung dan valve ini yang membutuhkan teknologi yang akhirnya pada hari ini tuh sudah ditemukan dan sudah bisa diimplementasikan," jelasnya dalam acara diskusi energi yang diselenggarakan ASPEBINDO di Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).

Nantinya, pengembangan tabung Tipe 4 tersebut akan diawasi oleh Lemigas untuk memastikan setiap unit yang diproduksi memenuhi kriteria keselamatan. Targetnya, dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, seluruh aspek administratif termasuk hak paten atas desain tabung 3 kg tersebut sudah dapat diselesaikan.

"Tabung itu sejak Tipe 1 sudah ditulis Pak, jurnal. Jadi dari Tipe 1-Tipe 4 itu dari ribuan jurnal dan tulisan tuh. Yang paling penting sekarang udah dipatenkan belum? Nah ini saya bilang makanya yang 3 bulan nanti itu itu harus sudah paten. Jadi bukan bikin-bikin baru merangkai terus ini nggak," tegasnya.

Selain itu, penggunaan CNG dalam tabung serat fiber diproyeksikan mampu memangkas nilai subsidi energi hingga 30% dibandingkan dengan penggunaan LPG. Hal tersebut lantaran sumber gas untuk CNG berasal dari lapangan gas dalam negeri yang potensinya semakin melimpah.

"Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma Tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada Tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif," tandasnya.


(ven/wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI Bakal Produksi CNG Demi Tekan Impor LPG