Heboh Skandal Budak Seks Wall Street, Eksekutif Wanita dan Bankir Pria
Jakarta, CNBC Indonesia - Skandal seks kini menggemparkan Wall Street, Amerika Serikat (AS). Seorang bankir pria mengajukan gugatan ke seorang eksekutif wanita bank ternama bank raksasa.
Gugatan tuduhan pelecehan seksual, pemaksaan, dan pelecehan rasial diajukan bulan lalu di pengadilan New York oleh seorang mantan bankir JPMorgan Chase yang diidentifikasi oleh media sebagai Chirayu Rana yang berusia 35 tahun. Ini ditunjukkan ke Lorna Hajdini direktur Leveraged Finance JPMorgan Chase.
Pengacara Hajdini, yang masih bekerja di bank tersebut, menyebut tuduhan itu dibuat-buat. JPMorgan Chase mengatakan telah menyelidiki klaim tersebut dan menemukan bahwa klaim itu tidak berdasar.
Lalu, bagaimana awal mulanya?
Mengutip NDTV Senin (18/5/2026), awalnya kasus ini diajukan ke pengadilan 27 April. Rana disebut dengan inisial "John Doe".
Ia hanya disebut sebagai seorang bankir yang sudah menikah. Pelecehan sendiri dimulai musim semi tahun 2024 setelah keduanya mulai bekerja bersama.
Dalam salah satu kejadian, Hajdini disebut merayunya dengan menjatuhkan pulpennya di lantai, di sebelah meja Doe. Saat membungkuk untuk mengambil benda tersebut, ia menggosok kaki korban dan meremas betisnya.
Ia pun berkomentar, menanyakan apakah Doe suka bermain basket, karena ia menyukai pemain basket di perguruan tinggi. "Mmereka membuatku sangat bergairah'," muat laman itu menirukan isi gugatan, yang merujuk pernyataan Hajdini.
Aksi pelecehan dilaporkan menjadi lebih eksplisit dari sini ketika Hajdini mengajak Doe minum dan berhubungan badan. Penolakan dari Doe diduga berujung ancaman.
Kata-kata muncul seperti "aku akan menghancurkanmu, jangan pernah lupa, aku benar-benar memilikimu". Gugatan tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa pada September 2024, Hajdini kembali mengancam Doe jika ia tidak mau berhubungan badan dengannya, dan juga mencela kinerja profesionalnya.
Doe sendiri dilaporkan mengaku "menyerah" pada pertemuan tersebut karena takut akan pembalasan Hajdini. Di sisi lain dikatakan bagaimana Hajdini kemudian mengakui telah membius Doe dengan rohypnol, yang biasa dikenal sebagai "roofies" serta zat farmasi lain yang memungkinkan Doe bisa melakukan hubungan badan tanpa sadar.
Di pertemuan lain, dalam gugatan tersebut Hajdini, muncul di apartemen korban dan melakukan pelecehan seksual lain. Ia pun menghina istri Doe dengan kata-kata rasis, merujuk ras Asia.
Sebenarnya Doe sendiri dilaporkan sudah mengajukan pengaduan tertulis ke JPMorgan Chase sejak 2025. Namun, bank tersebut membantah klaimnya, dengan menyatakan bahwa penyelidikan tidak menemukan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut.
"Setelah penyelidikan, kami tidak percaya ada dasar untuk klaim ini," kata juru bicara perusahaan.
"Meskipun banyak karyawan yang bekerja sama dengan penyelidikan, pengadu menolak untuk berpartisipasi dan menolak untuk memberikan fakta-fakta yang akan menjadi inti untuk mendukung tuduhannya," tambahnya.
Hal ini, menurut pengacara Doe, Daniel J Kaiser, membuat kliennya sangat terpukul secara pribadi dan profesional. Apalagi Hajdini masih bekerja di perusahaan tersebut dan Doe belum dapat menemukan pekerjaan lain.
Kaiser mengatakan kliennya menuntut ganti rugi atas kehilangan pendapatan, tekanan emosional, dan kerusakan reputasi. Doe juga menuntut ganti rugi hukuman dan perubahan pada praktik bank.
Hajdini sendiri adalah lulusan NYU Stern School of Business. Ia juga dikatakan menjadi sukarelawan di Minds Matter, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung siswa kurang mampu dalam mengejar pendidikan tinggi.
Serangan Video dan Meme Viral
Video-video dan meme kecerdasan buatan (AI)-pun memperkeruh suasana. Disinformasi dilaporkan AFP terjadi dalam kasus sensasional seperti kasus JP Morgan.
Bank itu sendiri juga telah diserang, dengan unggahan daring yang membagikan tangkapan layar yang diedit yang diduga menunjukkan laporan situs berita bahwa seorang magang JPMorgan ditangkap karena melakukan hal tak senonoh di lorong hotel. Situs tersebut tidak melaporkan adanya penangkapan seperti itu.
Gambar-gambar buatan yang memperolok Hajdini juga viral dengan cepat. Ia bahkan dibandingkan dengan karakter yang diperankan oleh aktris Demi Moore dalam film Disclosure tahun 1994, seorang bos wanita yang melakukan pelecehan seksual terhadap bawahan prianya.
"Mereka yang terlibat dapat menjadi sasaran penghinaan lebih lanjut melalui penggambaran yang berlebihan tentang dugaan tindakan kotor mereka," ujar Walter Scheirer dari Universitas Notre Dame kepada AFP.
(sef/sef) Add
source on Google