Prabowo Cerita Dekat dengan Petani Gara-Gara Jadi Tentara
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto mengatakan dirinya dekat dengan petani sejak berkarir sebagai tentara. Menurutnya sebagai tentara, terlebih sebagai komandan pasukan, hal yang dipikirkan tidak hanya soal peluru.
Selain peluru, dia mengatakan para tentara terlebih dahulu mengecek stok beras saat hendak berangkat operasi tempur. Menurut Prabowo, jika tentara tidak punya bekal beras, maka pasukan tidak bisa berperang.
"Kenapa saya dekat dengan petani? Karena saya dulu komandan pasukan, komandan pasukan tempur. Kita kalau mau berangkat operasi tempur, yang kita cek bukan peluru. Kita cek peluru, tapi kita cek dulu ada beras enggak? Kalau ada beras kita hitung, berasnya kuat untuk berapa hari," ujarnya dalam Panen Raya Jagung dan Launching 166 SPPG Polri di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dikutip Senin (18/5/2026).
"Kita cek peluru, tapi kita cek dulu ada beras enggak? Kalau ada beras kita hitung, berasnya kuat untuk berapa hari. Kalau berasnya untuk lima hari, ya lima hari kita operasi. Kalau berasnya 14 hari, 14 hari kita operasi. Bayangkan, Saudara-saudara, kalau enggak ada beras. Kalau enggak ada beras, tentara itu juga susah dia beroperasi," lanjutnya.
Oleh karena itu, dia menekankan bahan pangan sangatlah penting. Dia pun menceritakan saat perang kemerdekaan, rakyat banyak membantu memberikan makan kepada tentara Indonesia. Dengan demikian, dia menilai ketersediaan pangan menjadi hal yang penting karena ini menjadi persoalan hidup dan mati.
"Petani-petani yang memberi makan kepada TNI. Dan TNI dan Polri anggotanya ya anak-anak petani. Karena itu saya mengerti pentingnya pangan. Dan selalu saya katakan pangan adalah masalah hidup dan mati suatu bangsa," tegasnya.
Prabowo pun mengaku dirinya tidak berpandangan bahwa komoditas pertanian akan lebih efisien jika diimpor. Hal tersebut salah besar, pasalnya pangan adalah persoalan bertahan hidup
"Jadi saya tidak ikut-ikut paham-paham yang mengatakan bahwa beras, jagung, lebih efisien kalau kita impor. Survival bangsa bukan sekedar lebih murah di mana lebih murah, tapi ada atau tidak. Dan akhirnya sejarah, takdir, dan kenyataan membuktikan bahwa karena kita sudah lebih dulu aman soal pangan, krisis apapun di luar negara kita, kita relatif, relatif lebih aman, lebih siap menghadapi cobaan," paparnya.
(haa/haa) Add
source on Google