Skema Penyelamatan Rupiah Purbaya Bisa Efektif, Asal...
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah ekonom memperingatkan pemerintah untuk hati-hati menggunakan mekanisme dana stabilitas obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF) untuk membantu Bank Indonesia menjaga nilai tukar rupiah.
Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, implementasi BSF perlu dilakukan secara hati-hati karena bisa langsung memengaruhi kapasitas fiskal pemerintah yang tengah fokus mendorong pertumbuhan.
Meski begitu, ia mengakui, sistem itu memang bisa membantu stabilitas kurs karena imbal hasil atau yield surat utang pemerintah dijaga melalui pembelian kembali atau buyback surat utang yang dilepas investor asing, sehingga pasokan dolar dari investor mampu terjaga.
"BSF memang membuat pemerintah bisa melakukan buyback jadi harga obligasi bisa lebih stabil. Namun ini jika tidak dikelola hati-hati bisa menimbulkan isu," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (13/5/2026).
Namun, ia menekankan, kehati-hatian dalam penggunaan skema BSF menjadi sangat penting karena pada tahap awal sumber dana nya berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL).
"Sumber dana lewat SAL ini jadi dilema. Satu sisi untuk stabilisasi Rupiah dan jadi buffer untuk tekanan global, tapi satu sisi pemerintah masih pertahankan kebijakan pro-growthnya," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (13/5/2026).
Chief Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menambahkan, sistem BSF pun akan cukup efektif apabila pemerintah memiliki ruang intervensi sekitar Rp 2-3 triliun.
"Kalau untuk di bond market sih harusnya kalau misalkan mereka ada budget untuk intervensi Rp 2-3 triliun ya harusnya sih cukup," ujar Myrdal.
Namun, Myrdal pun mengingatkan kapasitas pemerintah tetap terbatas apabila tekanan berlangsung berkepanjangan. Karena itu, pemerintah perlu menjaga kepercayaan investor dengan memastikan fundamental ekonomi tetap solid.
"Kecuali memang yang kita lihat ya sekarang ya kondisinya adalah investor justru tertarik kalau misalkan deal kita naik as long as performa ekonomi kita solid. Tidak menunjukkan suatu hal yang nervous begitu buat investor," ujarnya.
Seperti diketahui, pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), kurs rupiah telah kembali mengalami penguatan ke level Rp17.460/US$, setelah sebelumnya terus tertekan hingga ke level terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.500/US$ pagi tadi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun sudah menegaskan, upaya mengamankan nilai tukar melalui skema BSF belum akan dilakukan dalam waktu dekat, karena perlu proses. Selain itu dilakukan di pasar surat utang, bukan pasar spot.
"Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," kata Purbaya selepas seremoni penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara serta penguasaan kembali kawasan hutan yang digelar di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan.
(arj/arj) Add
source on Google