Internasional

Mayday Mayday! Serangan Rahasia UEA ke Iran Bisa Jadi Perang Baru

tps, CNBC Indonesia
Rabu, 13/05/2026 22:00 WIB
Foto: Latihan militer Iran dengan menembakkan rudal jarak pendek di Teluk Oman.. (Iranian Revolutionary Guard/Sepahnews via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Risiko keterlibatan langsung negara-negara Teluk dalam perang melawan Iran dilaporkan meningkat tajam setelah terungkap bahwa Uni Emirat Arab (UEA) secara rahasia melancarkan serangan besar-besaran terhadap Teheran.

Ketegangan ini diperparah dengan klaim Kuwait yang berhasil menangkap empat anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) saat mencoba melancarkan serangan teroris di Pulau Bubiyan.

Mengutip The Guardian, serangan rahasia UEA tersebut dilaporkan sebagai aksi balas dendam atas gempuran Iran terhadap fasilitas milik mereka sebelumnya. Berdasarkan laporan Wall Street Journal, salah satu serangan UEA menyasar Pulau Lavan milik Iran sesaat sebelum gencatan senjata pada 7 April diumumkan.


Kabar mengenai operasi militer rahasia ini menempatkan UEA sebagai target utama Iran jika gencatan senjata saat ini berakhir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan telah memperingatkan bahwa gencatan senjata tersebut kini berada di ujung tanduk karena kegagalan Iran dalam memberikan konsesi terkait program nuklirnya.

"Gencatan senjata ini hanya bergantung pada seutas benang," ujar Trump pada Senin, (11/5/2026).

Di sisi lain, Pentagon mengungkapkan bahwa biaya perang dengan Iran telah membengkak drastis hingga mencapai hampir US$29 miliar (Rp507,5 triliun). Angka ini melonjak sekitar US$4 miliar (Rp70 triliun) dibandingkan perkiraan dua pekan sebelumnya.

Laporan intelijen juga mengungkap bukti penggunaan jet tempur Mirage buatan Prancis dan drone Wing Loong buatan China oleh UEA dalam operasi di wilayah Iran. Meskipun UEA mendapatkan dukungan pertahanan berupa baterai rudal Iron Dome dari Israel melalui mediasi Duta Besar AS Mike Huckabee, langkah militer UEA ini justru memicu keretakan diplomatik di antara negara-negara Teluk lainnya.

Arab Saudi, melalui mantan duta besarnya Turki al-Faisal, menegaskan pentingnya menahan diri agar tidak terjebak dalam rencana Israel untuk menyulut perang besar dengan Iran yang dapat menghancurkan seluruh kawasan. Jika perang total pecah, fasilitas minyak, instalasi desalinasi, hingga proyek Vision 2030 milik Arab Saudi terancam hancur total.

"Jika rencana Israel berhasil menyulut perang antara kami dan Iran, kawasan ini akan berubah menjadi negara yang hancur lebur," tulis al-Faisal.

Sementara itu, dampak serangan Iran sebelumnya telah melumpuhkan pabrik gas terbesar milik UEA, Adnoc Gas, yang diperkirakan tidak akan beroperasi penuh hingga tahun 2027.

Di tengah kekacauan ini, blok baru yang terdiri dari Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Qatar mulai terbentuk untuk menghindari konflik langsung dengan Iran sambil terus mengecam ekspansi Israel di wilayah tersebut.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Iran Ancam Gunakan Senjata Mengejutkan Jika Diserang Lagi