Perang Iran Berpotensi Berakhir dengan "Kekalahan" AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran disebut berpotensi berakhir dengan kemunduran Washington. Dua pengamat geopolitik menilai AS tidak akan mampu mempertahankan konflik berkepanjangan karena biaya militer, politik, dan ekonomi yang dinilai terlalu besar dibandingkan hasil yang diperoleh.
Dalam opini yang ditulis Jeffrey Sachs, profesor dan Direktur Pusat Pembangunan Berkelanjutan Universitas Columbia, bersama Sybil Fares, penasihat Timur Tengah dan Afrika untuk Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB, perang Iran dinilai menjadi bukti melemahnya dominasi global AS. "Perang melawan Iran kemungkinan besar akan berakhir dengan mundurnya Amerika," tulis keduanya, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (11/5/2026).
Menurut mereka, strategi AS-Israel sejak serangan dimulai pada 28 Februari 2026 bertumpu pada skenario "serangan pemenggalan kepala" terhadap elite politik dan militer Iran. Operasi itu disebut dirancang untuk melumpuhkan struktur komando Teheran, menghancurkan program nuklir, serta memicu runtuhnya rezim Iran.
Rencana tersebut, menurut opini itu, dijual kepada Presiden AS Donald Trump oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Direktur Mossad David Barnea. Namun, hasil di lapangan dinilai jauh dari ekspektasi Washington.
Pemerintahan Iran disebut tetap solid. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) justru memperkuat kontrol keamanan domestik sementara rakyat Iran dinilai bersatu menghadapi tekanan eksternal.
"Dua bulan berlalu, Trump dan Netanyahu tidak memiliki pemerintahan pengganti Iran di bawah kendali mereka, tidak ada penyerahan diri Iran untuk mengakhiri perang, dan tidak ada jalur militer menuju kemenangan," tulis Sachs dan Fares.
Mereka menilai satu-satunya opsi realistis bagi AS saat ini adalah mundur dari konflik. Dan mungkin, ketika itu terjadi, Iran tetap memegang pengaruh besar di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Dalam analisisnya, keduanya menyebut Washington salah besar dalam membaca kekuatan Iran. Negeri Persia itu disebut memiliki sejarah peradaban ribuan tahun, nasionalisme kuat, serta kemampuan teknologi militer yang berkembang pesat meski diterpa sanksi Barat selama puluhan tahun.
"Iran telah membangun industri pertahanan domestik yang mampu memproduksi rudal balistik, drone tempur, hingga sistem peluncuran orbital sendiri," muat keduanya.
Selain itu, perang modern dinilai kini lebih menguntungkan Iran dari sisi biaya. Drone Iran disebut hanya bernilai sekitar US$20.000 atau sekitar Rp348 juta sedangkan rudal pencegat pertahanan udara AS mencapai US$4 juta atau sekitar Rp69,6 miliar per unit.
Sementara itu, rudal anti-kapal Iran yang bernilai ratusan ribu dolar disebut mampu mengancam kapal perusak AS yang nilainya mencapai US$2 miliar hingga US$3 miliar.
"Teknologi perang yang mendasarinya telah bergeser melawan AS," tulis mereka.
Sachs dan Fares juga menyoroti proses pengambilan keputusan di Washington yang disebut semakin tidak rasional. Mereka menilai perang diputuskan oleh lingkaran kecil loyalis Trump tanpa mekanisme antar lembaga yang kuat.
Mereka pun menyinggung pengunduran diri Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Joe Kent pada 17 Maret 2026. Dalam surat terbukanya, Kent disebut menggambarkan adanya "ruang gema" yang menyesatkan presiden dalam proses pengambilan keputusan perang.
Menurut keduanya, perang tersebut bukanlah kebutuhan strategis. Melainkan, ini didorong ambisi mempertahankan hegemoni global AS dan dominasi regional Israel.
"Amerika Serikat berusaha mempertahankan dominasi global yang tidak lagi dimilikinya," tulis mereka.
Ke depan, Sachs dan Fares memperkirakan hasil akhir konflik kemungkinan hanya mengembalikan situasi mendekati status quo sebelum perang, tetapi dengan tiga perubahan besar: meningkatnya kendali Iran atas Selat Hormuz, menguatnya daya gentar militer Iran, serta berkurangnya kehadiran militer jangka panjang AS di kawasan Teluk.
"Kekaisaran Amerika tidak dapat memenangkan perang melawan Iran dengan biaya finansial, militer, dan politik yang dapat diterima," tulis mereka menilai perang Iran menjadi sinyal bahwa era dominasi absolut AS mulai memudar.
(sef/luc) Add
source on Google