Zulhas Sudah Bertitah, Masalah Sampah di RI Selesai Tahun 2029
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan bahwa Indonesia tengah mengalami kedaruratan persoalan sampah. Sehingga pemerintah mau mempercepat pembangunan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) rampung di 2028.
Hal ini diungkapkan Zulhas, saat Penandatanganan Kesepakatan Bersama Antara Pemerintah Daerah dan Danantara untuk Percepatan Pembangunan PSEL, Senin (11/5/2026).
"Perintah bapak presiden itu, beliau mengatakan tidak mungkin kita akan menjadi negara maju kalau sampah saja kita tidak bisa selesaikan, yang menyebabkan polusi, polusi tanah, air, udara, mengancam kesehatan, keselamatan masyarakat. Yang kita bahas hari ini, itu kategori darurat, yang open dumping," kata Zulhas.
"(Sampah) yang sudah numpuk-numpuk, sudah dikategorikan darurat pak," tambahnya.
Sampah Indonesia di beberapa wilayah memang mengalami penumpukan. Seperti yang terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ada di Bantar Gebang (Bekasi), Cipecang (Tangerang Selatan), hingga Burangkeng (Bekasi), dan lainnya. Bahkan beberapa bulan lalu terjadi longsor gunungan sampah di Bantar Gebang, yang memakan korban jiwa.
"Yang sudah dikategorikan darurat itu 22,5%. Yang Jakarta kemarin memakan korban. Daerah-daerah lain juga, saya kira sudah tinggi-tinggi tumpukannya," kata Zulhas.
Menurutnya dalam Peraturan Presiden Nomor 109/2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, itu memberikan mandatori persoalan sampah ini selesai di tahun 2028 mendatang.
Zulhas menjelaskan, dari aturan itu ada 25 lokasi mencakup 62 kabupaten/kota yang harus diselesaikan.
'Yang darurat, yang di atas 1.000 ton, yang terus menumpuk 1.000, 1.000, 1.000 (ton), nah itu jumlahnya 22,5%. Kita selesaikan prosesnya 6 bulan, administrasi, pembangunan 2 tahun," katanya.
"Sehingga 2027 separuh selesai, 2028 bulan Mei, yang 22,5% yang darurat tadi. Masih ada yang 77,5%, itu ada yang 500, 600, 700 (ton). Sedang kita selesaikan aturannya, agar ini bisa kita cepat selesaikan," tambahnya.
Menurut Zulhas saat ini BRIN bersama kampus di Indonesia juga sudah memiliki teknologi untuk menyelesaikan sampah. Khususnya produksi sampah yang di bawah 1.000 ton di berbagai daerah. Seperti penggunaan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel), TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu), hingga Pirolisis. Dengan cara itu, dia berharap persoalan sampah bisa selesai di daerah masing-masing.
"Yang darurat sampai seribu, kita selesaikan dua tahun mendatang. Yang lainnya sampai 2029," katanya.
"Yang sampai 2029 ini kita berharap di seluruh provinsi, kabupaten, kota, sampah-sampah yang bisa di-manage itu bisa selesai. Perkantoran, kantor gubernur sampah harus selesai. Kantor Wali Kota, Bupati, Pasar harus selesai di situ. Sekolah, restoran, toko, harus selesai di situ," tambahnya.
(emy/wur) Add
source on Google