Internasional

Awas Perang Besar Pecah, Dua Tetangga Nuklir RI Panas Lagi

tps, CNBC Indonesia
Senin, 11/05/2026 14:33 WIB
Foto: Misil BrahMos (AP Photo /Manish Swarup)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara dua kekuatan nuklir Asia Selatan, India dan Pakistan, kembali memuncak tepat satu tahun setelah konflik udara empat hari yang pecah pada Mei 2025. Meski kedua belah pihak mengklaim kemenangan strategis, para analis memperingatkan bahwa perang singkat tersebut justru mengekspos kerentanan serius di jantung pertahanan kedua negara.

Mengutip Al Jazeera, Pakistan merayakan awal Mei dengan berbagai poster dan spanduk penghormatan kepada kepemimpinan militer yang dianggap berhasil memandu pertahanan negara. Dalam sebuah upacara di Rawalpindi pada Kamis (7/5/2026), Angkatan Udara Pakistan (PAF) secara resmi memperingati keberhasilan mereka menjatuhkan jet tempur India dalam apa yang mereka sebut sebagai "Hari Pertempuran Kebenaran".

Namun, di seberang perbatasan, India juga bersikeras bahwa mereka adalah pemenang dalam konflik tersebut. Perdana Menteri India Narendra Modi mengganti foto profilnya di media sosial X dengan logo resmi Operation Sindoor, nama operasi militer India melawan Pakistan, dan menyerukan rakyatnya untuk melakukan hal yang sama sebagai bentuk penghormatan atas keberanian angkatan bersenjata mereka.


"Setahun yang lalu, angkatan bersenjata kita menunjukkan keberanian, presisi, dan tekad yang tak tertandingi. Hari ini, kita tetap teguh seperti sebelumnya dalam tekad kita untuk mengalahkan terorisme dan menghancurkan ekosistem pendukungnya," tulis Modi melalui akun X miliknya pada Kamis.

Klaim Kemenangan di Tengah Luka Militer

Konflik yang dipicu oleh serangan terhadap turis di Kashmir pada 22 April 2025 ini menyisakan perdebatan sengit mengenai siapa yang sebenarnya unggul di medan tempur. India meluncurkan Operation Sindoor pada 7 Mei 2025 dengan menyerang lokasi di dalam wilayah Pakistan, yang kemudian dibalas oleh Pakistan melalui Operation Bunyan al-Marsoos.

Air Marshal Awadhesh Kumar Bharti dari pihak India mengklaim dalam konferensi pers di New Delhi bahwa pasukannya telah menghancurkan 13 pesawat Pakistan dan menyerang 11 lapangan udara. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa kerugian pesawat tempur, termasuk jet Rafale yang dijatuhkan oleh J-10C buatan China milik Pakistan, adalah hal yang tak terelakkan dalam pertempuran.

"Kerugian adalah bagian dari pertempuran," ujar Bharti dengan nada datar saat mengakui jatuhnya pesawat India di hari pertama pertempuran.

Di sisi lain, Direktur Jenderal ISPR Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, menyatakan bahwa negaranya telah mengalahkan musuh yang berukuran lima kali lebih besar dari mereka. Ia menegaskan bahwa Pakistan baru menunjukkan sebagian kecil dari potensi militer yang mereka miliki.

"Kami telah mengalahkan musuh dan baru menunjukkan 10 persen dari potensi militer kami. Kami siap. Jika ada yang ingin menguji kami, mereka dipersilakan untuk melakukannya," tegas Chaudhry dalam jumpa pers di Rawalpindi.

Lubang Pertahanan Pakistan dan Rudal BrahMos

Meski mengklaim kemenangan udara, Pakistan harus menghadapi fakta pahit bahwa sistem pertahanan udara mereka gagal membendung rudal jarak jauh BrahMos milik India. Rudal supersonik tersebut berhasil menghantam pangkalan udara penting di Rawalpindi dan provinsi Sindh, yang membuktikan adanya celah besar dalam teknologi intersepsi Pakistan.

Analis pertahanan Tughral Yamin mengungkapkan bahwa geografi tidak lagi memberikan perlindungan strategis di era senjata presisi jarak jauh. Hal ini mendorong Pakistan untuk mempercepat operasionalisasi Army Rocket Force Command (ARFC) dan memperkenalkan sistem rudal baru seperti Fatah-III, Fatah-IV, dan Fatah-V yang memiliki daya jangkau hingga 1.000 km.

"Konflik tersebut menunjukkan bahwa geografi saja tidak lagi memberikan kedalaman strategis di era senjata presisi jarak jauh, drone, kemampuan siber, dan sistem panduan satelit," kata Yamin.

Muhammad Faisal, analis pertahanan yang berbasis di Sydney, menambahkan bahwa meskipun performa awal angkatan udara Pakistan luar biasa, serangan rudal India ke pangkalan udara menunjukkan kegagalan pada pertahanan darat. Pakistan kini dipaksa untuk meningkatkan anggaran militernya sebesar 20 persen menjadi 2,55 triliun rupee Pakistan atau setara US$9 miliar (Rp156 triliun) demi menambal lubang tersebut.

Ancaman Perang Air dan Diplomasi Trump

Selain pertempuran fisik, India mengambil langkah radikal dengan menangguhkan Perjanjian Air Indus (IWT) pada April 2025, sebuah kesepakatan yang mengatur pembagian air sungai antara kedua negara. Langkah ini menjadi ancaman eksistensial bagi Pakistan yang sangat bergantung pada aliran air sungai tersebut untuk sektor pertaniannya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Pakistan, Ahsan Iqbal, menyebut tindakan India ini sebagai penggunaan air sebagai instrumen tekanan politik yang sangat serius bagi keamanan nasional. Sementara itu, India menegaskan perjanjian akan tetap ditangguhkan hingga Pakistan mengambil langkah nyata terhadap kelompok bersenjata lintas batas.

"Upaya India untuk menggunakan air sebagai instrumen tekanan menyoroti dimensi eksternal yang serius bagi keamanan air Pakistan," kata Iqbal dalam sebuah rapat pemerintah.

Di tengah kebuntuan ini, Pakistan justru mendapatkan keuntungan diplomatik melalui hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump. Pakistan menominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian atas perannya dalam gencatan senjata pada 10 Mei 2025, yang kemudian membuka jalan bagi Panglima Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, untuk menjadi mediator penting dalam konflik AS-Iran di Timur Tengah.

Pakar kebijakan internasional C Uday Bhaskar memberikan peringatan keras bahwa kedua negara harus segera mengaktifkan jalur diplomasi rahasia untuk mengendalikan eskalasi di masa depan. Menurutnya, jika konflik kembali meletus, pergerakannya akan terjadi sangat cepat dan sulit terbendung.

"Kedua belah pihak harus berinvestasi dalam diplomasi Rencana B dan saluran tenang untuk mengendalikan eskalasi. Karena ketika itu terjadi, itu akan terjadi sangat cepat," pungkas Bhaskar.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Iran Balas Tawaran Damai AS, Bom Mobil Guncang Pakistan