Internasional

Siapa "Super Revolusioner" Iran, Faksi Garis Keras yang Tentang AS?

tps, CNBC Indonesia
Senin, 11/05/2026 21:40 WIB
Foto:(REUTERS/Majid-Asgaripour)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok garis keras di Iran yang dikenal sebagai "Jebhe-ye Paydari" atau Front Ketahanan, kini tengah gencar melakukan upaya sabotase terhadap potensi kesepakatan damai antara Teheran dan Washington. Gerakan ini muncul di tengah tahap kritis negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang sekaligus memperkuat klaim Presiden Donald Trump mengenai adanya perpecahan internal di dalam Republik Islam tersebut.

Mengutip CNN, kelompok yang dijuluki sebagai "Super Revolusioner" ini memiliki pandangan yang serupa dengan Trump bahwa kesepakatan nuklir 2015 adalah sebuah kesalahan, meski dengan alasan yang berbeda. Posisi mereka dianggap sangat memusuhi Barat, bahkan melampaui standar konservatif garis keras Iran pada umumnya, sehingga upaya rezim untuk meredam mereka sejauh ini menemui kegagalan.

"Mereka memandang perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai perjuangan abadi. Mereka percaya pada negara Syiah yang harus berlanjut hingga akhir zaman dan sangat fanatik dalam hal ideologi agama tersebut," kata Hamidreza Azizi, seorang peneliti tamu di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan.


Kemunculan kelompok ini sebagai suara paling vokal yang menentang rekonsiliasi terjadi di tengah perebutan kekuasaan pasca-meninggalnya Ali Khamenei pada akhir Februari 2026. Meskipun Pemimpin Agung yang baru, Mojtaba Khamenei, telah mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan persatuan, kelompok Paydari terus menabur perpecahan dengan menuduh para negosiator tidak setia kepada Republik Islam dan melanggar garis merah yang ditetapkan terkait program nuklir.

Suara Radikal dari Pusat Kekuasaan

Kelompok ini dianggap sangat radikal bahkan oleh kalangan konservatif mapan di Iran, namun anggota Jebhe-ye Paydari nyatanya tertanam di pusat-pusat kekuasaan yang berpengaruh. Faksi ini didukung oleh tokoh-tokoh senior media, politisi papan atas seperti Saeed Jalili yang meraih 13 juta suara pada pemilu 2024, hingga otoritas keagamaan yang memiliki pengaruh besar.

Dalam sebuah artikel di Raja News yang mewakili Front Paydari, mereka mengkritik keras keterbukaan Teheran untuk berdialog dengan pejabat AS. Mereka menilai bahwa pembicaraan tersebut adalah bentuk kapitulasi atau menyerah kepada musuh yang telah membunuh pemimpin mereka.

"Mereka (AS) menyadari bahwa membunuh pemimpin, komandan, dan orang-orang terkasih kita tidak memakan biaya apa pun bagi mereka. Mereka memahami bahwa meskipun mereka menyyahidkan Imam kita (Ali Khamenei), masih ada kelompok di sini yang bersedia bernegosiasi, berjabat tangan dengan Witkoff, Vance, dan Kushner, serta tersenyum pada pembunuh Imam kita yang syahid," tulis artikel tersebut.

Ketegangan internal ini juga terlihat di parlemen, di mana tujuh anggota legislator yang berafiliasi dengan kelompok tersebut menolak menandatangani pernyataan dukungan bagi tim negosiasi. Salah satu anggota parlemen, Mahmoud Nabavian, yang sempat ikut dalam tim negosiasi di Islamabad, justru berbalik menyerang dengan menyebut negosiasi nuklir sebagai kesalahan strategis.

"Mengingat sejarah itikad buruk Amerika dan kehadiran para pendukung JCPOA (perjanjian nuklir 2015) yang memalukan bersama Bapak Ghalibaf dalam negosiasi, tidak ada harapan untuk negosiasi dan kesepakatan yang menguntungkan bagi Iran," tulis Nabavian melalui akun X miliknya.

Pusat Kekuatan Baru

Menyusul pengeboman oleh Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada akhir Februari, kelompok ini berhasil membentuk pusat kekuatan baru melalui aksi unjuk rasa besar-besaran di jalanan Teheran. Ribuan pendukung setia Republik Islam, termasuk anggota Paydari, turun ke jalan untuk menekan kepemimpinan baru negara tersebut agar tidak tunduk pada tekanan Barat.

Pemimpin spiritual mereka saat ini, Ayatollah Mahdi Mirbaqiri, dikenal memiliki pandangan apokaliptik yang ingin mempercepat akhir zaman melalui pertempuran luas dengan Barat. Kelompok ini juga berhasil merangkul generasi muda Iran yang semakin tidak kenal kompromi setelah berulang kali menghadapi serangan militer dari luar.

"Kelompok Paydari cepat memanfaatkan kaum muda yang berorientasi ideologis yang sekarang berada di jalanan. Mereka mencoba merepresentasikan diri mereka sebagai manifestasi dari gagasan yang diperkenalkan oleh Ali Khamenei untuk menciptakan generasi revolusioner muda yang saleh yang mampu meneruskan warisan Republik Islam," jelas Azizi.

Semakin Terisolasi

Meskipun suara mereka sangat bising, upaya kelompok ini untuk memecah belah bangsa justru mulai menjadi bumerang. Berbagai spektrum politik di Iran, termasuk para rival politik yang biasanya berseteru, kini mulai bersatu untuk mengisolasi faksi radikal ini karena dianggap membantu narasi Israel dan AS bahwa Iran sedang dalam kondisi kacau secara internal.

"Tampaknya ini benar-benar menjadi bumerang bagi mereka. Mereka membuat banyak kegaduhan dan dianggap telah membantu Israel serta AS dalam menggambarkan Iran terjebak dalam perpecahan internal yang besar, namun kelompok radikal pinggiran ini mendapatkan perlawanan dari segala arah dan menjadi semakin terisolasi," ungkap Mohammad Ali Shabani, editor Amwaj.media.

Shabani berpendapat bahwa pada dasarnya kaum garis keras tidak sepenuhnya menolak kesepakatan dengan AS. Namun, mereka ingin menjadi pihak yang merundingkan kesepakatan tersebut demi mendapatkan pengaruh dan menyusun kembali struktur kekuasaan di dalam negeri.

"Mereka mengatakan jika kita terus berjuang, kita bisa memaksa AS untuk menyerah dan kemudian mendikte syarat-syaratnya. Tidak ada seorang pun di Iran yang menentang kesepakatan. Ini adalah tentang taktik bagaimana mencapai kesepakatan, dan siapa yang berhak membuatnya," pungkas Shabani.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kesepakatan Damai AS-Iran Ditentukan 48 Jam ke Depan