MARKET DATA

Tragedi Pesawat Jatuh Tewaskan 132 Orang, Mesin Sengaja Dimatikan

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
10 May 2026 19:30
China Eastern flight. (AP Photo/Ng Han Guan)
Foto: AP/Ng Han Guan

Jakarta, CNBC Indonesia - Temuan terbaru dari investigasi kecelakaan pesawat Boeing 737-800 milik China Eastern Airlines kembali memunculkan dugaan kuat adanya tindakan disengaja di dalam kokpit sebelum tragedi maut yang menewaskan 132 orang pada Maret 2022.

Berdasarkan data yang dianalisis oleh National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat, sakelar bahan bakar untuk kedua mesin pesawat dilaporkan dipindahkan secara manual ke posisi cutoff atau mati saat pesawat berada di ketinggian sekitar 29.000 kaki. Hal ini mengakibatkan kecepatan mesin menurun drastis tepat sebelum jet tersebut jatuh dari langit di wilayah terpencil Guangxi.

Mengutip laporan CNN International yang dikutip pada Minggu (10/5/2026), data ini diambil dari perekam data penerbangan atau "kotak hitam" pesawat yang dianalisis di laboratorium NTSB di Washington DC karena keterlibatan Boeing sebagai produsen pesawat asal AS.

"Ditemukan bahwa saat menjelajah di ketinggian 29.000 kaki, sakelar bahan bakar pada kedua mesin berpindah dari posisi run ke posisi cutoff. Kecepatan mesin menurun setelah pergerakan sakelar bahan bakar tersebut," tulis laporan resmi NTSB.

Analis keselamatan penerbangan CNN, David Soucie, menjelaskan bahwa sakelar bahan bakar pada pesawat komersial Boeing 737 memerlukan tindakan fisik yang spesifik. Seorang pilot harus menarik sakelar ke atas terlebih dahulu sebelum bisa memindahkannya ke posisi mati (cutoff), sehingga kecil kemungkinan hal tersebut terjadi karena ketidaksengajaan.

"Data ini dengan jelas menunjukkan bahwa sakelar bahan bakar ditempatkan secara manual pada posisi mati sesaat sebelum kecelakaan. Tidak ada indikasi bahwa sakelar dikembalikan ke posisi menyala. Itu menunjukkan tidak ada upaya untuk menyalakan kembali mesin. Jika sakelar dimatikan karena kesalahan, pilot pasti akan mencoba menyalakannya kembali," ujar Soucie.

Meskipun perekam data penerbangan berhenti berfungsi saat generator kehilangan daya di ketinggian 26.000 kaki, perekam suara kokpit (CVR) terus merekam melalui cadangan baterai. Penyidik AS berhasil memperoleh empat rekaman suara dari perangkat yang rusak tersebut dan telah mengirimkannya kepada Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC), namun NTSB tidak menyimpan salinan file audio tersebut.

Pakar penerbangan Tony Stanton dari konsultan Strategic Air Australia memberikan peringatan bahwa dokumen NTSB ini belum bisa dianggap sebagai laporan kecelakaan final. Ia menekankan perlunya interpretasi data yang lebih menyeluruh sebelum menarik kesimpulan akhir mengenai motif di balik tragedi tersebut.

"Materi yang dirilis ini tidak dengan sendirinya membuktikan motif, niat, atau siapa yang memindahkan sakelar tersebut. Namun, rangkaian peristiwa ini sangat sulit disesuaikan dengan kegagalan mekanis mesin ganda konvensional dan jauh lebih konsisten dengan pemutusan bahan bakar atas perintah manusia," kata Stanton.

Spekulasi mengenai tindakan sengaja ini sebenarnya telah beredar sejak tahun 2022, di mana beberapa laporan menyebutkan bahwa perintah input manusia mengirim pesawat ke arah menukik yang mematikan. CAAC sendiri sebelumnya sempat membantah spekulasi bunuh diri pilot dan menyatakan bahwa seluruh awak pesawat dalam kondisi sehat serta memiliki lisensi yang valid.

Hingga saat ini, China belum menerbitkan pembaruan signifikan terkait investigasi tersebut sejak tahun 2024. Hal ini memicu kritik publik karena kegagalan otoritas setempat dalam merilis laporan akhir, sementara bukti-bukti teknis dari kotak hitam terus menunjukkan adanya kejanggalan yang mengarah pada intervensi manusia di dalam kokpit.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pesawat Boeing 787-8 Jatuh Tewaskan 260 Orang, Ini Temuan Barunya


Most Popular
Features