Putin Siapkan Serangan Besar ke Kawasan NATO, Ini yang Diincar
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas intelijen Barat mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas meningkatnya upaya Rusia untuk membunuh lawan-lawan politiknya yang berada di pengasingan di Eropa. Kampanye pembunuhan terencana ini dilaporkan semakin intensif sejak invasi besar-besaran Presiden Vladimir Putin ke Ukraina pada tahun 2022.
Mengutip laporan The Associated Press, seorang aktivis hak asasi manusia asal Rusia, Vladimir Osechkin, terpaksa hidup di bawah perlindungan ketat kepolisian Prancis sejak tahun 2022. Otoritas Prancis meyakini bahwa Kremlin secara aktif berupaya untuk melenyapkannya setelah ia membongkar berbagai pelanggaran di sistem penjara Rusia dan membantu pembelot militer.
Osechkin menceritakan bagaimana ketatnya pengawalan yang ia terima demi menjaga keselamatan nyawanya dan keluarganya. Setiap kali ia ingin melakukan aktivitas sederhana di luar rumah, ia harus selalu berkoordinasi dengan pihak berwenang setempat.
Aktivis tersebut mengaku tidak bisa bergerak bebas bahkan untuk urusan domestik sekalipun. Pengawalan polisi menjadi syarat mutlak baginya untuk bisa menginjakkan kaki di luar pintu rumah.
"Ketika Vladimir Osechkin ingin mengantar anak-anaknya ke sekolah atau pergi ke supermarket, dia menelepon polisi," tulis laporan tersebut pada Kamis (7/5/2026).
Seorang pejabat senior intelijen Eropa menegaskan bahwa rangkaian upaya pembunuhan ini bukanlah sebuah kebetulan. Operasi-operasi ini diyakini merupakan kebijakan terstruktur yang telah mendapatkan restu dari pemegang kekuasaan tertinggi di Rusia.
Intelijen melihat adanya pola yang jelas dalam setiap serangan yang dilakukan di tanah Eropa. Pejabat tersebut menekankan bahwa setiap aksi memiliki landasan perintah yang kuat dan sistematis.
"Kampanye ini bukan karena kecelakaan atau kebetulan. Ada otorisasi politik," kata pejabat senior intelijen tersebut.
Di sisi lain, Kremlin melalui juru bicaranya memberikan tanggapan singkat terkait tuduhan serius yang dialamatkan kepada pemerintah Rusia. Pihak Rusia memilih untuk tidak masuk lebih dalam ke dalam pusaran tuduhan tersebut.
Dmitry Peskov menyatakan bahwa pihaknya tidak merasa perlu memberikan penjelasan atau pembelaan atas klaim yang dilontarkan oleh intelijen Barat. Baginya, isu ini tidak memerlukan perhatian khusus dari pemerintah pusat.
"Peskov mengatakan kepada AP bahwa dia tidak melihat 'kebutuhan apa pun' untuk berkomentar," tulis laporan tersebut.
Perjalanan ke Tepi Laut
Osechkin mengakui bahwa ancaman terhadap dirinya melonjak drastis setelah ia mulai menginvestigasi dugaan pelanggaran yang dilakukan pasukan Rusia di Ukraina. Ia merasa keputusannya untuk mengungkap kebenaran telah menjadikannya target utama bagi dinas rahasia Moskow.
Aktivis hak asasi manusia ini sangat mengapresiasi kesigapan pemerintah Prancis dalam mendeteksi ancaman terhadap nyawanya. Tanpa intervensi dari aparat penegak hukum, ia yakin nasibnya akan berakhir tragis.
"Jika bukan karena mereka, saya mungkin sudah terbunuh," ujar Osechkin.
Target Memilih Tidak Bersembunyi
Di belahan Eropa lainnya, aktivis Ruslan Gabbasov mengungkapkan momen mencekam ketika kepolisian Lituania memberitahunya bahwa seorang eksekutor telah bersiap di depan kediamannya. Petugas meminta Gabbasov untuk tidak pulang karena situasi yang sangat berbahaya.
Gabbasov menjelaskan bagaimana petugas memberikan rincian tentang penangkapan pembunuh bayaran yang sudah mengintainya. Sang eksekutor dilaporkan telah bersiap dengan senjata api untuk menghabisi nyawanya.
"Kemarin, seorang pembunuh ditahan di dekat rumah Anda; dia sedang menunggu Anda dengan pistol. Dia siap menunggu Anda sepanjang malam," kata petugas kepolisian kepada Gabbasov.
Meskipun nyawanya terancam, Gabbasov menolak tawaran otoritas Lituania untuk "menghilang" dan mengganti identitas demi keselamatannya. Ia mempertanyakan apa keuntungan yang didapat jika ia harus berhenti dari aktivitas politiknya karena rasa takut.
Gabbasov merasa bahwa jika ia memilih untuk bersembunyi, maka Rusia telah memenangkan pertempuran intimidasi ini. Ia menegaskan bahwa diamnya seorang aktivis adalah tujuan utama dari operasi intelijen tersebut.
"Apa bedanya bagi mereka? Mereka bisa membunuh saya atau saya bisa bersembunyi dari semua orang dan berhenti terlibat dalam aktivitas politik. Itulah tepatnya yang mereka inginkan," tegas Gabbasov.
Rencana Bom di Kotak Surat
Pejabat intelijen Eropa lainnya memperingatkan bahwa meskipun sebuah plot pembunuhan berhasil digagalkan, para target tetap tidak boleh lengah sedikit pun. Sifat dari operasi intelijen Rusia adalah terus mengejar targetnya hingga berhasil.
Kegagalan satu operasi tidak berarti ancaman telah berakhir bagi para musuh Kremlin. Pejabat tersebut mengingatkan bahwa kewaspadaan tinggi harus tetap dijaga secara permanen karena musuh bisa menyerang kapan saja.
"Bahkan jika Anda menggagalkan sebuah operasi sekali, Anda tetap perlu bersiap jika mereka menyerang lagi," kata pejabat intelijen Eropa tersebut menutup keterangannya.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]