Tak Lagi Impor, SPBU Swasta Kini Wajib Beli Solar ke Pertamina
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan kebijakan penghentian impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar secara nasional sudah berlaku. Maka SPBU swasta diminta menyerap pasokan solar hasil produksi kilang domestik milik PT Pertamina (Persero).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman membeberkan skema pembelian solar oleh badan usaha swasta ke Pertamina tersebut kini sudah mulai diimplementasikan. Artinya, saat ini produksi solar khususnya jenis CN48 oleh Pertamina sudah dialokasikan untuk SPBU swasta.
"Sudah, sudah (sudah harus beli ke Pertamina)," jawab Laode saat dikonfirmasi mengenai progres kewajiban SPBU swasta membeli solar ke Pertamina, ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai swasembada energi, mengingat kapasitas produksi kilang di dalam negeri terutama dari RDMP Balikpapan saat ini dinilai sudah mencukupi kebutuhan nasional. Pemerintah mendorong penggunaan produk dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan menjaga stabilitas stok energi.
"Sebenarnya kan sejak diumumkan, itu sudah dilakukan pertemuan-pertemuan. Dan kalau ditanya ke swasta pasti sudah ada, coba saja tanya," kata Laode.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bertambahnya kapasitas kilang Balikpapan membuka peluang Indonesia menghentikan impor BBM. Pasalnya, kebutuhan nasional bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.
"Insya Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor," kata Bahlil.
Menurut Bahlil kebutuhan solar Indonesia tercatat sebesar 39,8 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, program B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Este sebesar 15,9 juta kiloliter kl per tahun, sehingga kebutuhan solar murni B0 tersisa 23,9 juta kl per tahun.
Dengan produksi nasional yang saat ini mencapai 26,5 juta kl per tahun, pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai pertengahan 2026 untuk produk CN 48 dan CN 51 mulai pertengahan 2026.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]