MARKET DATA

Pengusaha Plastik Curhat Kena Hantam dari Berbagai Penjuru

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
05 May 2026 18:10
(kiri ke kanan): Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar AD Budiyono dalam dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5
Foto: (kiri ke kanan): Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar AD Budiyono dalam dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5/5/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri plastik nasional tidak hanya menghadapi lonjakan harga bahan baku, tetapi juga tekanan besar dari sisi logistik dan biaya pengiriman. Kenaikan ini menjadi beban tambahan yang memperparah kondisi industri di tengah krisis global.

Dalam situasi normal, rantai pasok bahan baku relatif stabil. Namun gangguan geopolitik membuat jalur distribusi berubah drastis, memaksa pelaku industri mencari sumber alternatif yang lebih jauh.

Perubahan rute ini berdampak langsung pada biaya logistik yang meningkat tajam. Waktu pengiriman yang lebih lama juga menambah kompleksitas dalam pengelolaan produksi. Selain itu, faktor risiko pengiriman turut memicu kenaikan biaya asuransi yang signifikan.

"Yang pertama adalah masalah asuransi. Jadi asuransi bahan baku yang kita beli ini naik sangat tinggi. Kemudian selain itu ada juga surcharge selama perang yang bisa mencapai 150 sampai 200 dolar," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Lonjakan biaya ini menjadi salah satu tekanan terbesar bagi industri saat ini. Tidak hanya itu, perubahan sumber pasokan dari Timur Tengah ke wilayah lain seperti Amerika atau Afrika membuat jarak tempuh pengiriman meningkat drastis.

Akibatnya, biaya logistik bisa melonjak hingga beberapa kali lipat dibanding kondisi normal. Kondisi ini membuat biaya operasional meningkat secara signifikan di sisi hulu industri.

"Kalau dulu kita beli dari Timur Tengah hanya 15 hari, sekarang bisa 50 hari. Artinya biaya logistik naik hampir tiga kali lipat," kata Suhat.

Tekanan biaya ini tidak bisa sepenuhnya dialihkan ke konsumen karena keterbatasan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, industri tetap harus menjaga produksi agar tidak terhenti, sehingga sebagian besar biaya tambahan harus ditanggung sendiri.

Wakil Ketua Inaplas Edi Rivai menambahkan, kenaikan biaya terjadi hampir di seluruh lini, mulai dari bahan baku hingga operasional.

"Kenaikan harga ini hampir linear dengan crude oil, sekitar 80 sampai 120 persen. Ditambah lagi biaya pendukung seperti logistik dan energi juga ikut naik," jelasnya.

Kondisi ini membuat margin industri semakin tertekan, terutama bagi pelaku usaha yang tidak memiliki fleksibilitas dalam penentuan harga.

Di tengah tekanan tersebut, industri berharap ada intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas biaya logistik dan distribusi.

"Kalau biaya logistik ini tidak dijaga, tentu akan sangat membebani industri. Karena distribusi adalah bagian penting dari rantai produksi," tegas Edi.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Korea Selatan Terancam Krisis Kantong Plastik, Ada Apa?


Most Popular
Features