Kilang Minyak Rusia Diserang, 150 Juta Barel Minyak ke RI Kena Dampak?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan komitmen pengadaan minyak mentah dari Rusia belum terpengaruh oleh serangan Ukraina terhadap sejumlah fasilitas minyak di Rusia. Pemerintah saat ini masih memegang kesepakatan awal terkait rencana impor 150 juta barel minyak mentah guna menjaga ketahanan energi nasional.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Ia menyebut hingga saat ini belum ada perubahan terkait komitmen volume pasokan yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua negara.
"Kalau saat ini sih kita belum melihat itu (dampak serangan) ya. Komitmen kita masih sama dengan ini (Rusia), ngomong-ngomong Pak Menteri kemarin," kata Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Selasa (5/5/2026).
Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah mematangkan rencana mendatangkan minyak asal Rusia untuk mencukupi kebutuhan kilang di dalam negeri. Meskipun terdapat kabar mengenai pengurangan produksi dan ekspor dari pihak Rusia akibat serangan tersebut, pihaknya menilai hal itu belum berdampak langsung terhadap rencana kerja sama dengan Indonesia.
"Kalau kita kan melihat semuanya, bukan hanya dari Rusia, tapi day-to-day kita dari mana itu yang harus kita jaga. Jadi seperti itu," lanjut Laode.
Selain memantau kondisi di Rusia, pemerintah juga tetap melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak dari berbagai negara lain untuk memitigasi risiko gangguan distribusi global. Langkah tersebut diambil guna memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tetap berada pada level yang aman.
"Yang paling penting buat kita itu saat ini menjaga stok aja aman. Udah itu aja dulu, kita nggak usah pikirin dulu. Ini tapi stok aman aja udah, itu yang paling penting," tandasnya.
Asal tahu saja, pada hari Minggu (3/5/2026) Ukraina melancarkan serangan salah satunya Primorsk, sebuah terminal ekspor minyak utama Rusia. Primorsk sendiri salah satu gerbang ekspor terbesar Rusia, memiliki kapasitas untuk menangani satu juta barel minyak per hari.
Melansir Aljazeera, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa harga minyak global mungkin akan meningkat lebih lanjut jika Ukraina terus menyerang infrastruktur minyak Rusia.
"Jika volume tambahan minyak kami diturunkan dari pasar, harga akan naik lebih jauh dari level saat ini, yang sudah di atas $120 per barel. Itu akan berarti bahwa bahkan dengan volume ekspor yang lebih rendah, perusahaan kami akan menghasilkan lebih banyak uang dan negara akan menerima lebih banyak pendapatan," kata Peskov.
(pgr/pgr) Add
source on Google