Menperin & Purbaya Rapat Bareng Soal Nasib Manufaktur RI, Ini Hasilnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah tengah berupaya memaksimalkan peran sektor manufaktur sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan pihaknya telah melakukan pembahasan intensif bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengurai berbagai hambatan yang dihadapi industri di lapangan.
Langkah ini dilakukan di tengah tantangan global yang masih membayangi sektor industri. Koordinasi lintas kementerian diperlukan untuk memastikan kebijakan yang diambil mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha.
"Bagaimana caranya sektor manufaktur bisa lebih membantu, lebih memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Kita semua tahu bahwa sektor manufaktur merupakan tulang punggung dari perekonomian," ujar Agus di kantor Kemenkeu, Selasa (3/5/2026).
Ia menegaskan bahwa kinerja sektor manufaktur menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pertumbuhan sektor ini sempat melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, sebuah capaian yang disebut belum pernah terjadi dalam lebih dari satu dekade.
"Kontribusi terhadap GDP-nya dari tahun-tahun naik, bahkan pertumbuhan manufaktur tahun lalu bisa tercatat di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak pernah terjadi selama 14 tahun sebelumnya," katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Agus menyebut kedua kementerian membedah berbagai persoalan mendasar yang menghambat kinerja industri. Fokus utama diarahkan pada pencarian solusi yang bisa segera dijalankan.
Ia juga mengapresiasi langkah Kementerian Keuangan yang telah lebih dulu membentuk tim khusus untuk mengurai hambatan atau debottlenecking di sektor usaha.
"Kami berdua, Kementerian Keuangan dan Kementerian sudah duduk, kita bedah berbagai macam kendala yang mungkin dihadapi di lapangan oleh pelaku usaha industri," jelasnya.
Agus menilai pendekatan ini akan mempercepat perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Hal ini penting agar sektor manufaktur tetap kompetitif di tengah dinamika global.
Selain itu, pembahasan juga mencakup langkah-langkah kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan industri secara lebih cepat. Pemerintah mempertimbangkan kombinasi antara stimulus dan insentif.
"Jadi kita tadi intinya memang membahas apa saja policy, langkah-langkah yang perlu kita ambil, pemerintah ambil baik itu sebagai stimulus maupun sebagai insentif," ungkapnya.
Isu ekspor juga menjadi perhatian utama dalam pertemuan tersebut. Pemerintah ingin mendorong peningkatan kontribusi ekspor manufaktur tanpa mengabaikan kekuatan pasar domestik.
Menurut Agus, struktur industri Indonesia saat ini masih didominasi pasar dalam negeri. Hal ini berbeda dengan negara-negara lain di kawasan yang lebih agresif di pasar ekspor.
"Output manufaktur kita selama ini rata-rata hanya 20an% yang diekspor, 80% merupakan produk-produk yang diserap di dalam negeri," katanya.
(fys/wur) Add
source on Google