Ekonom Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI 'Strong' di Q1, Ini Motornya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I-2026 pada Selasa (5/5/2026). Data ini sangat penting dalam melihat sejauh mana ketahanan ekonomi Tanah Air menghadapi guncangan global di awal tahun.
Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 akan mencapai 5,5%, ditopang oleh dampak libur Lebaran, konsumsi sepanjang Ramadan dan paket kebijakan dari pemerintah.
Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,40% secara tahunan (year on year/yoy). Namun secara kuartalan, ekonomi diproyeksi terkontraksi 1,0% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).
Jika konsensus ini tepat, maka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022 (5,73%).
Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 ini akan mencapai 5,37%. Menurut Myrdal pertumbuhan ini sedikit turun dibandingkan kuartal IV tahun lalu yang mencapai 5,39%. Namun, dia menambahkan besaran pertumbuhan ini masih tinggi. Konsumsi, kata Myrdal, masih menjadi faktor pendorong utama.
"Dikarenakan ada efek yang namanya hari raya atau hari besar keagamaan. Gimana ya kalau kita lihat banyak momen dari lebaran, puasa, ataupun juga Imlek. Jadi ya itu yang mendorong konsumsi tinggi," ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (5/5/2026).
"Karena ditambah juga dengan kondisi dimana dukungan likuiditas itu ke masyarakat, itu cukup supportive pada periode kuartal pertama ini. Baik itu berupa THR, ataupun juga dari gaji ke berapa ya. Kalau PNS juga sama, THR juga ya," tambahnya.
Di sisi lain, Myrdal melihat belanja pemerintah juga mengalami akselerasi dan realisasinya lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan ekonomi kita masih cukup agresif pada kuartal pertama ini," katanya.
Dari sisi ekspor, pada kuartal I-2026, permintaan global belum terganggu akibat pecahnya perang di Timur Tengah sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi belum terdampak.
Untuk kuartal II-2026, Myrdal khawatir ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan. Menurut Myrdal, periode ini minim momen spesial, seperti Lebaran. Sementara itu, belanja pemerintah mulai diarahkan untuk program prioritas pembangunan.
Kendati melambat, Myrdal tetap meyakini ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih berada di kisaran 5%. Hal ini karena pemerintah belum melakukan kenaikan harga BBM bersubsidi. Kemudian harga LPG 3 Kg dan tarif dasar listrik juga tidak mengalami perubahan.
"Jadi itu yang membuat kenapa ekonomi kita sampai kuartal kedua itu kita proyeksikan masih tumbuh di atas 5%. Karena konsumsi kita masih kuat. Harga Pertalite, solar masih sama, LPG juga masih sama," ujarnya.
"Kita lihat sih untuk kuartal kedua harusnya masih bisa tumbuh 5,31%," tegasnya.
Dari sisi ekspor, Myrdal menilai dampak kenaikan harga komoditas global akan berpengaruh terhadap output atau produksi Indonesia.
"Secara sektoral juga kita lihat sektor-sektor seperti transportasi, lalu juga sektor perdagangan retail, lalu juga sektor pertanian, ataupun juga sektor jasa ini masih tumbuhnya kuat kuartal kedua. Jadi kita proyeksikan kuartal kedua itu tumbuh di level 5,31%," kata Myrdal.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI memperkirakan pertumbuhan PDB pada triwulan pertama 2026 diproyeksikan sebesar 5.48%. Proyeksi ini masih berada di rentang estimasi 5.46%-5.50%. Adapun, secara keseluruhan tahun, LPEM memperkirakan ekonomi RI akan tumbuh sebesar 5,15%.
Dalam laporan terbarunya yang disusun oleh Peneliti LPEM UI Jahen F. Rezki, Teuku Riefky dan lainnya, lembaga ini mengungkapkan di tengah berlanjutnya tekanan eksternal dan internal, perekonomian Indonesia diperkirakan akan menikmati faktor musiman di kuartal-I 2026 menyusul adanya periode Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri. Lebih lanjut, pencairan tunjangan hari raya (THR) juga meningkatkan pendapatan bersih masyarakat.
"Kombinasi dari berbagai faktor ini dengan efek basis rendah (low-base effect) dari pertumbuhan PDB di triwulan-I 2025, pertumbuhan ekonomi di triwulan pertama 2026 diperkirakan akan tumbuh cukup tinggi. Sehingga, ekonomi Indonesia diestimasi akan tumbuh sebesar 5,48% (y.o.y) di triwulan-I 2025 ," papar LPEM.
Namun, secara keseluruhan tahun, LPEM UI mengingatkan risiko konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan risiko memburuknya kapasitas fiskal dapat menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya. Oleh sebab itu, LPEM UI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 5,1%-5,2% pada tahun ini.
"kami berpandangan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,15% (yoy) untuk FY2026 (kisaran estimasi dari 5,1% hingga 5,2%) akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan risiko memburuknya kapasitas fiskal," tulis LPEM.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro memperkirakan PDB Indonesia akan meningkat sebesar 5,47% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2026, naik dari 5,39% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025, didukung oleh permintaan domestik yang lebih kuat, terutama dari pengeluaran pemerintah, investasi, dan konsumsi musiman terkait Ramadan.
"Pertumbuhan yang lebih tinggi ini juga didorong oleh efek basis rendah, setelah pertumbuhan yang lebih lambat sebesar 4,87% yoy pada kuartal pertama tahun 2025, ketika pemerintah menerapkan realokasi pengeluaran," tegasnya.
Menopang pertumbuhan yang tinggi ini, Andry memperkirakan konsumsi rumah tangga akan tetap tangguh di angka 5,2% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2026, lebih tinggi dari 5,1% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025.
"Hal ini didukung oleh indikator konsumsi yang lebih kuat, dengan pertumbuhan penjualan ritel rata-rata mencapai sekitar 5,7% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2026 dari 4,7% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025," ujarnya.
Ini diperkuat dengan laporan Indeks Pengeluaran Mandiri yang meningkat rata-rata 6,4% (yoy) dari 5,3% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025. Kenaikan ini, kata Andry, didorong oleh pengeluaran yang lebih tinggi di sektor elektronik dan barang konsumsi.
Sementara itu, Andry menilai belanja pemerintah diperkirakan akan pulih menjadi 5,5% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2026, dari 4,6% (yoy) pada kuartal keempat tahun 2025.
"Hal ini didukung oleh percepatan fiskal, dengan pertumbuhan belanja APBN mencapai 31,4% yoy pada Maret 2026, didorong oleh pencairan belanja personel, bantuan sosial, dan program prioritas," ujarnya.
Di sisi lain, Andry juga memperkirakan investasi diperkirakan akan menguat menjadi 6,5% (yoy) pada kuartal I-2026, naik dari 6,1% yoy pada kuartal IV-2025. Kondisi ini didukung oleh indikator utama yang membaik a.l. kinerja PMI Manufaktur yang mencapai rata-rata 52,2 pada kuartal pertama tahun 2026 dan penjualan semen meningkat sebesar 5,0% pada kuartal I-2026.
"Ini mencerminkan aktivitas infrastruktur yang berkelanjutan meskipun ada sedikit penurunan menjelang akhir kuartal," ujarnya.
(haa/haa) Add
source on Google