MARKET DATA

RI Mau Terapkan Bioetanol E20, Ikuti Jejak Thailand, India-AS!

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
04 May 2026 19:50
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/5/2026). (YouTube/Himpunan Alumni IPB)
Foto: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/5/2026). (YouTube/Himpunan Alumni IPB)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menargetkan penerapan mandatori pencampuran bioetanol sebesar 20% (E20) pada bahan bakar minyak (BBM) dapat terealisasi pada tahun 2028 mendatang.

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor dengan mencontoh keberhasilan sejumlah negara seperti Thailand, India, dan Amerika Serikat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pihaknya telah mempelajari implementasi bioetanol di berbagai negara, termasuk Brasil yang telah lebih maju dalam penggunaan campuran etanol.

"Berangkatlah saya ke Brasil dan beberapa negara lain. Saya belajar, ternyata di Brasil itu sudah mandatory E30 bahkan di beberapa negara bagian sudah E100," ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).

Ia pun menegaskan dalam penggunaan bioetanol sebagai campuran BBM, Indonesia tidak berjalan sendiri. Sejumlah negara seperti Thailand, India, dan Amerika Serikat telah lebih dahulu menerapkan kebijakan pencampuran tersebut.

"Dan ini semua sudah uji-uji lolos. Sudah lolos uji semua ini. Termasuk India sudah E20. Thailand, Amerika. Inilah kira-kira cara kita untuk bagaimana mendatangkan dan menuju kepada ketahanan energi kita," katanya.

Di sisi lain, Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dalam jumlah besar, yakni sekitar 20 juta kiloliter (KL) per tahun. Namun demikian, impor tersebut bukan berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi.

Ia membeberkan bahwa total kebutuhan BBM nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 39 juta hingga 40 juta KL. Adapun, sebelum proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan beroperasi, kapasitas produksi BBM dalam negeri hanya sekitar 14,3 juta KL, sehingga Indonesia harus mengimpor hingga 25 juta KL BBM.

Namun setelah kilang RDMP Balikpapan mulai beroperasi, kapasitas produksi bensin nasional meningkat signifikan.

"Dengan RDMP kita operasikan itu menghasilkan 5,6 juta sampai 5,7 juta bensin. Berarti impor kita sekarang tinggal 20 juta. Dan impor ini tidak kita lakukan dari negara Middle East. Jadi tidak ada dari negara-negara yang lewat Selat Hormuz untuk BBM jadinya," katanya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Impor dari AS, RI Juga Pangkas Pasokan Bioetanol dari Negara Lain


Most Popular
Features