Internasional

Breaking: Iran Warning Keras Trump, Hormuz Bakal Jadi 'Kuburan' Kapal

tps, CNBC Indonesia
Senin, 04/05/2026 13:12 WIB
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran kembali mengeluarkan peringatan keras ke Amerika Serikat (AS). Hal ini terkait intervensi Paman Sam ke Selat Hormuz.

Dikatakannya bahwa setiap upaya "ikut campur" akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Ancaman ini muncul tepat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana Amerika untuk mulai mengawal kapal-kapal melalui jalur perairan yang diblokade tersebut.

Mengutip laporan AFP, Senin (4/5/2026), negosiasi antara kedua negara telah menemui jalan buntu sejak gencatan senjata berlaku pada 8 April 2026. Fokus utama perselisihan saat ini adalah kendali ketat Iran atas selat strategis tersebut, yang merupakan balasan atas serangan gabungan AS-Israel ke Teheran sebelumnya.


Ini terkait ucapan Trump, Minggu, yang mengumumkan operasi maritim baru bertajuk "Project Freedom" yang diklaimnya sebagai gerakan "kemanusiaan". Operasi ini bertujuan membantu kru kapal yang terjebak dalam blokade dan mulai kehabisan pasokan makanan serta kebutuhan krusial lainnya.

"Kami akan mengerahkan upaya terbaik untuk mengeluarkan Kapal dan Awak mereka dengan selamat dari Selat. Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali sampai area tersebut aman untuk navigasi," tulis Trump dalam unggahan di media sosial Truth Social.

Menanggapi rencana tersebut, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran memberikan reaksi keras. Pihak Teheran menegaskan bahwa kehadiran militer AS dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz tidak akan ditoleransi.

"Setiap campur tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata," tegas ketua komisi tersebut.

Langkah Iran memblokir Selat Hormuz telah melumpuhkan aliran utama minyak, gas, dan pupuk ke ekonomi dunia, sementara AS membalasnya dengan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Meski tensi memanas, Trump mengklaim perwakilannya sedang melakukan diskusi "sangat positif" dengan pihak Iran yang bisa membuahkan hasil baik bagi semua pihak.

Namun, militer AS tidak main-main dalam mempersiapkan Project Freedom. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan akan mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat tempur, platform tanpa awak, hingga 15.000 personel layanan untuk mengamankan jalur Hormuz. Berdasarkan data AXSMarine per 29 April, terdapat lebih dari 900 kapal komersial yang saat ini tertahan di kawasan Teluk.

Di sisi lain, laporan dari Axios menyebutkan bahwa Iran telah menetapkan tenggat waktu satu bulan untuk negosiasi kesepakatan pembukaan kembali selat, pembubaran blokade laut AS, dan pengakhiran perang. Garda Revolusi Iran bahkan memberikan pilihan sulit bagi Trump.

"Trump harus memilih antara operasi yang mustahil atau kesepakatan buruk dengan Republik Islam Iran," bunyi pernyataan Garda Revolusi.

Krisis ini telah membuat harga minyak dunia melonjak sekitar 50% di atas level sebelum konflik akibat gangguan pasokan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa blokade ekonomi ini dilakukan di seluruh lini pemerintahan untuk melumpuhkan rezim Iran.

"Kami mencekik rezim tersebut, dan mereka tidak mampu membayar tentaranya. Ini adalah blokade ekonomi yang nyata," ujar Bessent kepada Fox News.

Ketegangan mencapai puncaknya saat Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengancam akan menenggelamkan armada tempur AS. Melalui unggahan di platform X, ia memperingatkan AS untuk bersiap menghadapi kekalahan fatal.

"AS adalah satu-satunya bajak laut di dunia yang memiliki kapal induk. Kemampuan kami menghadapi bajak laut tidak kalah dengan kemampuan kami menenggelamkan kapal perang. Bersiaplah menghadapi kuburan bagi kapal induk dan pasukan Anda," tegas Rezaei.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Veteran Militer AS Ditangkap, Usai Demo Tolak Perang AS-Iran