Kemenkeu: RI Punya Resiliensi Kuat dengan Penyangga Ekonomi Baik!

haa, CNBC Indonesia
Kamis, 30/04/2026 20:43 WIB
Foto: Suasana Gedung Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di Jakarta, Rabu (10/1/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan Indonesia tetap memiliki resiliensi yang kuat dengan buffer ekonomi yang relatif baik dibanding negara lain di tengah proyeksi ekonomi global yang melemah disertai tekanan inflasi yang meningkat membuat ruang gerak ekonomi dunia semakin sempit.

"Ketahanan ini tercermin dari surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan serta kinerja ekspor yang tetap solid, sementara peningkatan impor yang didominasi bahan baku dan barang modal menunjukkan aktivitas produksi dan investasi domestik yang masih ekspansif," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Deni Surjantoro dalam rilis APBN KITA, Kamis (30/4/2026).


Adapun, Deni memastikan pemerintah tetap menjaga APBN sebagai peredam gejolak, sementara sektor manufaktur masih bertahan di zona ekspansi baik di global ataupun domestik, menandakan ekonomi tetap berjalan meski melambat.

Kendati ada tanda melambat, Kemenkeu tetap berkeyakinan pertumbuhan ekonomi kuartal I diproyeksikan mencapai 5,5% yang kuat, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang resilien, akselerasi investasi proyek strategis dan perumahan, serta dominasi sektor manufaktur berbasis hilirisasi.

Inflasi terkendali dengan baik pada level 3,48% yang bersifat temporer, sementara ketahanan sektor keuangan tetap terjaga meski di tengah tekanan global.

Deni menegaskan pemerintah terus aktif menjaga stabilitas Rupiah, yield SBN, dan market confidence, diiringi upaya optimalisasi harga minyak serta lifting migas untuk memperkuat ketahanan fiskal nasional ke depan.

"Secara keseluruhan, momentum positif ini membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif," ujarnya.

Lebih lanjut, Kemenkeu melihat pasar SBN menunjukkan ketahanan ditengah gejolak geopolitik global. Yield SBN yang sempat mengalami sentimen risk-off global, kini sudah mereda - spread yield SBN terhadap US Treasury berada pada level yang kompetitif di 229 basis poin per pertengahan April 2026.

Deni memaparkan posisi spread Indonesia yang lebih rendah dibandingkan negara emerging markets lainnya serta koreksi pada CDS Indonesia mencerminkan resiliensi pasar SBN dan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik.

"Pemerintah bersama BI dan OJK akan terus memantau dinamika global untuk memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga, sehingga mendukung momentum pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Deni memastikan dengan pengelolaan fiskal yang prudent dan koordinasi kebijakan yang solid, Pemerintah optimistis APBN 2026 akan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: IMF: Perang Timur Tengah Picu Inflasi & Perlambatan Ekonomi