Perang Saudara Memanas, Rusia Pertahankan Pasukan di Negara Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan keamanan di Afrika Barat kembali meningkat setelah serangkaian serangan mengejutkan mengguncang Mali, memicu pertanyaan soal masa depan kehadiran militer Rusia di negara tersebut. Namun, Kremlin menegaskan bahwa pasukannya tidak akan ditarik, meski situasi di lapangan kian memburuk.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Kamis (30/4/2026) menyatakan bahwa Rusia akan tetap berada di Mali untuk mendukung pemerintah militer dalam memerangi kelompok bersenjata. Pernyataan ini muncul setelah laporan bahwa kelompok pemberontak mendesak Rusia angkat kaki, dengan alasan junta militer yang berkuasa tidak akan bertahan lama tanpa dukungan Moskow.
"Rusia hadir di sana, pada kenyataannya, karena kebutuhan yang diidentifikasi oleh pemerintah saat ini. Rusia akan terus, termasuk di Mali, untuk memerangi ekstremisme, terorisme, dan fenomena berbahaya lainnya serta akan terus memberikan bantuan kepada pemerintah saat ini," ujar Peskov, dilansir Reuters.
Dalam beberapa hari terakhir, Mali dilanda serangan mendadak yang dilancarkan oleh afiliasi al Qaeda di Afrika Barat serta kelompok separatis yang didominasi etnis Tuareg. Serangan ini memperlihatkan meningkatnya koordinasi dan kekuatan kelompok bersenjata di kawasan tersebut.
Situasi semakin memburuk setelah Menteri Pertahanan Mali, Sadio Camara, yang dikenal memiliki hubungan erat dengan Rusia, tewas dalam serangan bom bunuh diri pada akhir pekan lalu. Kematian Camara menjadi pukulan besar bagi pemerintah militer Mali, yang selama ini mengandalkan kerja sama keamanan dengan Rusia.
Di saat yang sama, pasukan yang terkait dengan Rusia terpaksa mundur dari kota strategis Kidal, wilayah penting yang sebelumnya berhasil direbut pada 2023 dengan bantuan tentara bayaran Rusia. Penarikan ini menandai kemunduran signifikan dalam upaya Moskow memperkuat pengaruh militernya di wilayah Sahel.
Untuk menahan laju serangan pemberontak, Rusia dilaporkan harus mengerahkan kekuatan militer tambahan, termasuk helikopter tempur dan pembom strategis. Langkah ini menunjukkan bahwa situasi di Mali tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan terbatas seperti sebelumnya.
(luc/luc) Add
source on Google