Sejumlah calon penumpang perempuan kembali memadati gerbong khusus wanita Kereta Rel Listrik (KRL) di peron 3-4 Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Kepadatan ini terjadi seiring normalisasi operasional jalur Cikarang pasca kecelakaan kereta yang terjadi awal pekan ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Untuk pertama kalinya sejak insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4), perjalanan KRL di jalur tersebut kembali berjalan normal. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Kecelakaan tersebut mengakibatkan kerusakan parah, termasuk pada gerbong khusus perempuan, serta menimbulkan 16 korban jiwa dan 88 korban luka-luka. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Memasuki fase normal baru di jalur yang dikenal sebagai blue line, para penumpang perempuan mulai kembali menggunakan gerbong khusus wanita. Pada jam sibuk pulang kerja, sekitar pukul 17.30 WIB, gerbong perempuan terpantau kembali dipenuhi penumpang dengan tujuan Bekasi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Di sisi lain, wacana perubahan posisi gerbong perempuan mencuat pascakecelakaan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengusulkan agar gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian tengah rangkaian kereta guna meminimalkan risiko benturan saat terjadi kecelakaan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Namun demikian, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa aspek keselamatan tidak dibedakan berdasarkan gender. Ia menjelaskan bahwa keberadaan gerbong khusus perempuan lebih ditujukan untuk memberikan rasa aman dari potensi pelecehan seksual di dalam kereta. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Pantauan di lapangan juga menunjukkan aktivitas di peron arah Bekasi kembali ramai seperti hari-hari normal. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Arus penumpang yang meningkat menandakan kepercayaan masyarakat terhadap layanan KRL mulai pulih. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Salah satu penumpang, Retno (46), yang rutin bepergian dari Bekasi ke Cilebut, mengaku tidak terlalu khawatir terkait penggunaan gerbong perempuan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
“Saya biasanya menyesuaikan saja, kalau penuh di depan ya pindah ke belakang. Keluarga di rumah paling hanya mengingatkan untuk tetap hati-hati,” ujarnya kepada CNBC Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)