RI Bangun Proyek Hilirisasi Rp116 T, Duitnya dari Mana? Ini Kata Rosan

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Rabu, 29/04/2026 15:10 WIB
Foto: Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani saat menyampaikan paparan Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II, Cilacap, Rabu (29/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)

Cilacap, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan dimulainya pembangunan alias groundbreaking 13 proyek hilirisasi fase ke-2 dengan total nilai investasi diperkirakan mencapai Rp 116 triliun.

Peresmian acara peletakan batu pertama alias groundbreaking 13 proyek hilirisasi ini dilakukan di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Selain di Cilacap, peresmian juga dilakukan secara serentak di beberapa lokasi, termasuk di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

Acara peresmian ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pejabat negara, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, serta Kapolri Listyo Sigit Prabowo.


Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani beserta pejabat Danatara lainnya juga turut hadir dalam acara peresmian ini, antara lain Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria dan CIO Danantara Pandu Sjahrir.

CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, pihaknya mendorong proyek hilirisasi ini untuk segera dieksekusi dalam rangka penciptaan nilai tambah, penciptaan industri, dan tentunya penciptaan lapangan pekerjaan.

"Jadi kalau kita lihat dari proyek-proyek yang kita jalankan ini akan terciptakan lapangan pekerjaan mencapai kurang lebih 600.000 orang, Bapak Presiden," ungkap Rosan saat menyampaikan laporan terkait proyek hilirisasi yang tengah dijalankan Danantara kepada Presiden Prabowo Subianto saat peresmian groundbreaking 13 proyek hilirisasi fase ke-2 di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).

Untuk 13 proyek hilirisasi fase ke-2 ini, dia menyebut nilai investasi yang akan dikeluarkan mencapai Rp 116 triliun.

Lantas, dari mana saja uang yang akan dikeluarkan untuk kebutuhan investasi hilirisasi tersebut? Apakah semuanya akan berasal dari Danantara?

Rosan pun menjawab, investasi akan dikeluarkan dari masing-masing Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengerjakan proyek hilirisasi tersebut.

"Enggak, itu kan semua dari Badan Usaha Milik Negara atau BUMN-BUMN. Yang di mana memang kita mendorong mereka untuk mengakselerasi atau mempercepat proyek-proyek dari hilirisasi ini yang memang sudah ada dalam rencana mereka tapi tidak dilaksanakan sampai pada saatnya kemudian baru kita lihat, kita akselerasi dan kita juga memperkuat sektor permodalan mereka dalam rangka mereka menjalankan ini," jelas Rosan saat ditemui awak media usai acara peresmian.

"Jadi sektor permodalannya Danantara juga membantu di beberapa BUMN ini. Contohnya, di Krakatau Steel kita juga sudah masuk pendanaannya. Jadi kita membantu melalui dari segi pendanaannya. Karena memang kalau dari segi know-how-nya, teknologinya kan memang BUMN-BUMN ini sudah lebih mengetahui dan lebih expert di industrinya dan bidangnya," tuturnya.

Daftar 13 Proyek Hilirisasi

Berikut daftar lengkap 13 proyek hilirisasi fase 2:

Proyek 1-2:

Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline

BUMN Holding: PT Pertamina (Persero)

Lokasi: Dumai (Riau), Cilacap (Jawa Tengah)

• Pengembangan kapasitas kilang gasoline pada fasilitas eksisting RU II Dumai dan RU IV Cilacap dengan total kapasitas 62 MBSD yang ditargetkan onstream pada Q4 2030.

• Proyek ini mensubstitusi impor gasoline hingga 2 juta KL per tahun atau 9,47% gap supply-demand nasional, mendukung pemenuhan Pertamax Series dari produksi domestik, serta menurunkan impor produk sampingan termasuk propylene dan LPG.

• Proyek ini berkontribusi pada penguatan ketahanan energi nasional sekaligus menjaga stabilitas harga energi, yang pada akhirnya mendukung daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Proyek 3-4-5:

Pembangunan Tangki Operasional BBM

BUMN Holding: PT Pertamina (Persero)

Lokasi: Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), Maumere (Nusa Tenggara Timur)

• Pengembangan tiga Terminal BBM di Palaran (37 ribu KL), Biak (46 ribu KL), dan Maumere (70 ribu KL) dengan total tambahan kapasitas 153 ribu KL, meningkatkan kapasitas penyimpanan nasional sebesar 3,1%.

• Dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga dan ditargetkan onstream bertahap pada 2027 (Maumere) dan 2028 (Palaran, Biak).

• Proyek ini memperkuat keandalan distribusi energi, khususnya di wilayah Indonesia Timur, sehingga mendorong pemerataan pembangunan dan memperkecil kesenjangan harga antarwilayah.

Proyek 6

Fasilitas Pengolahan Batu Bara menjadi DME

BUMN Holding: PT Pertamina (Persero), PT Mineral Industri Indonesia (Persero)

Lokasi: Tanjung Enim (Sumatera Selatan)

• Pengembangan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim, dengan PTBA sebagai operator dan Pertamina Patra Niaga sebagai o_taker.

• Proyek ini mensubstitusi impor LPG yang saat ini memenuhi 80% kebutuhan nasional.

• Selain memberikan efisiensi devisa, proyek ini memperkuat ketahanan energi domestik serta menciptakan peluang kerja baru dalam pengembangan industri hilir berbasis energi.

Proyek 7:

Pengembangan Fasilitas Manufaktur Baja Nirkarat dari Nikel

BUMN Holding/Mitra: PT Krakatau Steel (Persero) Tbk / Tsingshan Group

Lokasi: Indonesia Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah)

• Pengembangan fasilitas produksi stainless steel slab berkapasitas 1,2 juta ton per tahun berbasis nikel lokal melalui proses peleburan dan pemurnian modern.

• Inisiatif ini meningkatkan nilai tambah mineral dalam negeri sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja industri serta pertumbuhan ekonomi kawasan industri secara berkelanjutan.

Proyek 8

Pengembangan Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon dari Bijih Besi Lokal

BUMN Holding/Mitra: PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. / Xin Hai Group

Lokasi: Cilegon (Banten)

• Pengembangan fasilitas produksi steel slab berkapasitas 1,5 juta ton per tahun melalui peningkatan proses produksi dan modernisasi fasilitas existing untuk mencapai efisiensi operasional.

Sebagai bagian dari industri dasar, proyek ini memperkuat fondasi industrialisasi nasional serta mendukung efisiensi pembangunan infrastruktur dan peningkatan daya saing industri domestik.

Proyek 9

Ekosistem dan Fasilitas Produksi Aspal Buton

BUMN Holding: PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Lokasi: Karawang (Jawa Barat)

• Pengembangan Aspal Buton diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan dari 5 ribu ton pada 2025 menjadi 300 ribu ton pada 2030.

• Proyek ini mendorong optimalisasi sumber daya lokal sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi daerah penghasil serta membuka peluang kerja di sektor konstruksi dan material.

Proyek 10

Hilirisasi Tembaga dan Emas

BUMN Holding: PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT Len Industri (Persero)

Lokasi: Gresik (Jawa Timur)

• Pengembangan fasilitas Brass Mill, Brass Cup, serta manufaktur logam mulia berbasis anode slime.

• Proyek ini memperkuat industri strategis nasional serta membuka peluang kerja bernilai tambah tinggi di sektor manufaktur logam.

Proyek 11

Pengolahan Sawit menjadi Oleofood dan Biodiesel

BUMN Holding: PT Perkebunan Nusantara III (Persero)

Lokasi: Sei Mangkei (Sumatera Utara)

• Pengembangan klaster hilirisasi sawit melalui fasilitas oleofood dan biodiesel.

• Proyek ini meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani serta penguatan ketahanan energi nasional.

Proyek 12

Fasilitas Pengolahan Pala menjadi Oleoresin

BUMN Holding: PT Perkebunan Nusantara III (Persero)

Lokasi: Maluku Tengah (Maluku)

• Pengembangan fasilitas pengolahan pala menjadi oleoresin.

• Proyek ini memperkuat ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan serta meningkatkan pendapatan petani melalui produk bernilai tambah lebih tinggi.

Proyek 13

Fasilitas Terpadu Kelapa

BUMN Holding: PT Perkebunan Nusantara III (Persero)

Lokasi: Maluku Tengah (Maluku)

• Pengembangan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi menghasilkan MCT, coconut flour, dan activated carbon.

• Proyek ini mendorong diversifikasi produk berbasis kelapa sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan memperluas akses ke pasar ekspor bernilai tinggi.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Prabowo Resmikan Pembangunan 13 Proyek Hilirisasi Rp116 Triliun