Breaking News! UEA Putuskan Keluar dari OPEC
Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang akan berlaku efektif mulai 1 Mei mendatang. Pengumuman ini disampaikan oleh kantor berita resmi UEA, WAM, dan menandai pergeseran besar dalam peta kekuatan energi global.
Mengutip CNN pada Rabu, (29/04/2026), langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari visi ekonomi jangka panjang negara tersebut. Keputusan ini juga disebut sebagai upaya UEA untuk lebih leluasa dalam mengembangkan sektor energinya sendiri tanpa terikat aturan kelompok.
"Keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang Uni Emirat Arab serta pengembangan sektor energinya, termasuk mempercepat investasi dalam produksi energi domestik," bunyi pernyataan resmi pemerintah UEA.
Langkah ini merupakan pukulan telak bagi OPEC dan anggota utamanya, Arab Saudi, mengingat UEA adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia yang menyumbang sekitar 3% hingga 4% pasokan global. Selain meninggalkan organisasi inti, pernyataan tersebut juga mengonfirmasi bahwa UEA akan keluar dari aliansi OPEC+ yang mencakup Rusia.
Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, memberikan penjelasan lebih lanjut melalui pernyataannya di media sosial X. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bentuk evolusi yang disesuaikan dengan kondisi pasar saat ini.
"Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC mencerminkan evolusi berbasis kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang," kata Mazrouei.
Meskipun keluar dari aliansi tersebut, Mazrouei menjamin bahwa negaranya akan tetap berperan aktif dalam menjaga ketersediaan energi bagi dunia. Ia menekankan fokus UEA pada pasokan yang bertanggung jawab dan rendah karbon.
"Kami tetap berkomitmen terhadap ketahanan energi, menyediakan pasokan yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon sambil mendukung pasar global yang stabil," tutur Mazrouei.
Selama ini, UEA memang dikabarkan terus mendesak OPEC untuk menaikkan kuota produksi minyak mereka. Negara tersebut tengah gencar memperluas kapasitas produksinya jauh melampaui level yang ditetapkan oleh kartel yang selama ini mengatur pasokan dan harga minyak dunia tersebut.
UEA sendiri telah menjadi bagian dari sejarah panjang organisasi ini sejak bergabung pada tahun 1967, atau tujuh tahun setelah OPEC didirikan oleh Arab Saudi, Iran, Irak, Venezuela, dan Kuwait. Kini, keluarnya salah satu produsen dalam 10 besar dunia tersebut menjadi sorotan tajam karena OPEC kolektif mengendalikan hampir 80% cadangan minyak terbukti di dunia.
(tps/tps) Add
source on Google