MARKET DATA
Internasional

Penembak Trump Didakwa Percobaan Pembunuhan, Ancaman Bui Seumur Hidup

tps,  CNBC Indonesia
28 April 2026 11:40
Personel penegak hukum menahan Cole Tomas Allen, tersangka dalam insiden penembakan di acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih, di Washington, D.C., AS, 25 April 2026. (DONALD J TRUMP via Truth Social/Handout via REUTERS)
Foto: Personel penegak hukum menahan Cole Tomas Allen, tersangka dalam insiden penembakan di acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih, di Washington, D.C., AS, 25 April 2026. (DONALD J TRUMP via Truth Social/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Cole Tomas Allen, pria yang dituduh melepaskan tembakan dalam acara jamuan makan malam koresponden Gedung Putih, resmi didakwa pada hari Senin waktu setempat dengan pasal percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Atas dakwaan berat tersebut, pria asal California ini terancam hukuman penjara seumur hidup jika terbukti bersalah di pengadilan.

Allen yang berusia 31 tahun tampil perdana di pengadilan federal Washington dengan tangan terborgol di belakang punggung serta mengenakan seragam penjara berwarna biru. Kehadirannya di persidangan ini terjadi hanya dua hari setelah otoritas menyebutnya melancarkan serangan gagal dalam acara tahunan yang dihadiri oleh para jurnalis dan politisi papan atas tersebut.

Jaksa penuntut, Jocelyn Ballantine, menegaskan poin utama dakwaan dalam persidangan singkat tersebut. Mengutip Reuters Selasa (28/4/2026), Ballantine secara langsung menyebut target utama dari serangan bersenjata yang dilakukan oleh tersangka.

"Dia mencoba membunuh Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump," tegas Ballantine di hadapan hakim.

Pelaksana Tugas Jaksa Agung, Todd Blanche, memberikan keterangan tambahan kepada wartawan usai persidangan mengenai motif tersangka. Berdasarkan temuan penyidik, Allen diduga menargetkan Trump karena menganggap sang presiden sebagai sosok yang telah mengkhianati negara.

"Penyidik meyakini Allen menargetkan Trump sebagian karena dia tampaknya menyebut presiden sebagai 'pengkhianat' dan menggunakan julukan buruk lainnya dalam email yang dia kirimkan kepada kerabatnya pada malam kejadian," ujar Blanche.

Blanche juga menekankan bahwa kekerasan politik tidak memiliki tempat dalam kehidupan sipil dan tidak akan dibiarkan mengganggu institusi demokrasi. Ia menegaskan bahwa hukum akan ditegakkan dengan sangat keras, terutama ketika ancaman tersebut ditujukan langsung kepada pemimpin negara.

Selain dakwaan percobaan pembunuhan, pria asal Torrance, California, ini juga menghadapi tuduhan pengangkutan senjata api lintas negara secara ilegal dan melepaskan tembakan selama tindak kekerasan. Jaksa Ballantine mengungkapkan bahwa Allen membawa gudang senjata kecil ke Washington, termasuk shotgun jenis pump-action 12-gauge, tiga buah pisau, serta sebuah pistol semi-otomatis Rock Island Armory 1911 kaliber .38.

Dalam dokumen pengadilan yang diajukan oleh agen FBI, terungkap bahwa Allen telah merencanakan aksinya dengan cukup matang. Ia memesan kamar di hotel Washington Hilton sejak 6 April dan menempuh perjalanan menggunakan kereta api dari California pekan lalu sebelum akhirnya mengirimkan pesan mengerikan kepada keluarganya.

"Menurut surat pernyataan, Allen pada hari Sabtu mengirim email kepada anggota keluarganya yang menyebut dirinya sebagai 'Friendly Federal Assassin' dan membahas rencana untuk menargetkan pejabat senior administrasi Trump," tulis keterangan dalam dokumen afidavit tersebut.

Insiden penembakan itu sendiri sempat menimbulkan kekacauan luar biasa di ruang dansa hotel, di mana para tamu undangan terpaksa berlindung di bawah meja sementara agen keamanan segera mengevakuasi para pejabat tinggi. Trump, yang dijadwalkan memberikan pidato pada malam itu, langsung dilarikan turun dari panggung oleh personel keamanan tak lama setelah tembakan terdengar.

Allen dilaporkan sempat berlari melewati detektor logam di pos pemeriksaan keamanan hotel sambil memegang senjata panjang sebelum akhirnya dilumpuhkan. Meskipun seorang petugas Secret Service sempat tertembak di bagian dada, petugas tersebut selamat berkat rompi antipeluru yang dikenakannya, sementara Allen jatuh ke tanah setelah petugas melepaskan tembakan balasan meski tidak mengenai tubuhnya.

Hakim Matthew Sharbaugh memerintahkan agar Allen tetap ditahan hingga setidaknya hari Kamis mendatang untuk menjalani sidang lanjutan. Pengacara pembela, Tezira Abe, menyatakan bahwa kliennya tidak memiliki catatan penangkapan atau hukuman sebelumnya, namun jaksa penuntut di Washington, Jeanine Pirro, memastikan bahwa dakwaan tambahan akan segera diajukan terhadap Allen.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dor! Ditembak di Kepala, Anggota Garda Nasional AS Tewas


Most Popular
Features