Bahlil Usul ke Prabowo: RI Gencarkan Produksi CNG Demi Tekan Impor LPG

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Senin, 27/04/2026 14:55 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk di Istana Negara, Kamis (16/4/2026). Rapat ini berkaitan dengan hasil kunjungan kerja ke Rusia dan Prancis, khususnya penyediaan energi. (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan usul terbaru untuk mengurangi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG), yaitu dengan pengembangan produksi Compressed Natural Gas (CNG) di dalam negeri.

Bahlil mengungkapkan langkah alternatif yang untuk melakukan substitusi impor LPG. Diketahui konsumsi LPG per tahun mencapai 8,6 juta metrik ton, yang sekitar 7 juta metrik ton dipenuhi dari impor dan sisanya berasal dari produksi dalam negeri.

"Selebihnya kita impor kurang lebih sekitar 7 juta (metrik ton), dan ini terjadi sejak konversi daripada minyak tanah ke LPG. Dan saya melaporkan bahwa LPG ini kita putar otak terus hampir tidak kita istirahat kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya," kata Bahlil, usai Rapat Terbatas (Ratas) di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/2026).


Bahlil menjelaskan bahwa salah satu masalah Indonesia tidak bisa memproduksi industri LPG adalah minimnya bahan baku C3 (Propana) dan C4 (Butana) di dalam negeri, sehingga perlu mencari alternatif lain, seperti Dimethyl Ether (DME) dari batu bara kalori rendah, dan yang terbaru CNG.

"Nah alternatif ketiga, sekarang lagi masih dalam pembahasan Yang tadi saya laporkan adalah Kita membuat CNG, tapi ini masih dalam pembahasan. Saya harus finalisasi, Dan ini salah satu alternatif terbaik Untuk kita mendorong agar Kemandirian energi kita dari sektor LPG Bisa dapat kita lakukan," katanya.

Menurut Ketua Umum Partai Golkar ini, Indonesia kaya akan gas bumi yang mengandung C1 (Metana) yang biasa disebut gas kering dan C2 (etana), sehingga paling memungkinkan jika diproduksi di dalam negeri. Namun dia memastikan ini masih sebatas usulan, dan belum menjadi keputusan resmi dari pemerintah.

"Kalau DME baru groundbreaking, Tapi kalau Untuk CNG itu sebagian sudah dipakai untuk hotel, restoran Itu sudah dipakai sebagian SPBG sudah juga dipakai, Dan itu bahan bakunya tidak kita impor Semuanya dalam negeri," kata Bahlil.

"Nah ini yang coba kita cari alternatif Karena di era geopolitik yang tidak menentu Kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode. Semua produksi yang ada dalam negeri Itu yang kita prioritaskan," tambahnya.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bahlil Pastikan Indonesia Dapat Jatah Minyak & LPG dari Rusia